Surat Yasin Buat Yang Hidup
“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” [Yasin 36: 69-70]
Sudah menjadi tradisi di masyarakat kita bahwa surat Yasin selalu dikaitkan dengan kematian. Dia dibacakan kepada orang yang sedang sakaratul maut. Juga dibaca beramai-ramai pada peringatan ke-7, 40, 100, 1000 hari setelah wafatnya. Buku kecil surat Yasin seolah sudah menjadi standar, harus dibagikan kepada tetangga dan kerabat pada peringatan tersebut. Sehingga terpatri kesan bahwa surat Yasin hanya untuk yang mati. Anehnya, bila kita telaah isi ayat-ayatnya, selain tentang keimanan, justru mengandung petunnjuk Allah tentang hal-hal keduniaan. Bahkan, diantaranya bias dijadikan arahan penemuan baru di bidang sains dan teknologi. Misalnya di ayat 29, “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.”
Hal senada juga muncul lagi di ayat 49, “Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.” Intinya ialah bahwa suara bisa membunuh ! Ini bisa menjadi inspirasi pengembangan jenis senjata sonic, yakni pancaran gelombang suara frekwensi tinggi yang memecahkan gendang telinga. Bahkan lebih jauh lagi bila disetel sama dengan frekwensi molekul tubuh manusia, tubuh musuh akan beresonansi, ikut bergetar dahsyat sampai rontok. Kemudian ayat 33 sampai 35, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”
Ini jelas berbicara tentang pertanian, menghidupkan bumi yang mati dan menghasilkan biji-bijian, kebun kurma dan anggur, dan tentang mata air. Ayat ke 36, “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”
Ini mengisyaratkan tentang fenomena bahwa segala sesuatu itu sebetulnya serba kembar. Sejalan dengan teori alam kembar, parallel universe.
Ayat 38 dan 39 membuka cakrawala ilmu ruang angkasa “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.”
Ayat-ayat tadi mengungkat tentang rotasi bumi yang menyebabkan terjadinya siang-malam, orbit matahari dan bulan. Jelas ayat-ayat ini bagi yang masih idup dan mau belajar ilmu astronomi, bukan penjelasan bagi yang sedang sakaratul maut.
Ayat 41 dan 42 menyangkut transportasi laut dan darat, “Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu.”
Ayat 47 menyindir teori ekonomi pasar bebas, yang membiarkan kemiskinan struktural tanpa disubsidi. “Dan apabila dikatakakan kepada mereka: "Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu", maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata."”
Ayat 55 sampai 57 menggambarkan nikmat surga, “Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.”
Bagi para arsitek kerjaan Spanyol Islam, ayat-ayat tadi mengilhami desain istana dengan taman indah berair mancur di Granada dan Alhambra. Sesuatu yang belum dikenal di Eropa sebelumnya. Demikian juga dilanjutkan para arsitek dinasti Abbasiyah di Baghdad dan dinasti Usmaniah di Istambul.
Ayat 65 berbunyi, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
Ini bisa menjadi inspirasi para detektif untuk mencari pembuktian dari bekas tangan dan kaki tanpa menyiksa tersangka. Juga isyarat bagi penyidik kejahatan di laboratorium kriminologi unutk membuat lie detector, alat pendeteksi kebohongan.
Ayat 71 sampai 73 membahas peternakan, “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? ”
Ayat 78 dan 79 menyebutkan tentang kuasa Allah menghidupkan tulang belulang, “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.”
Inipun bisa ditakwilkan sebagai isyarat untuk mengembangkan ilmu fosil, merekonstruksi kerangka binatang, dan manusia purba. Dan ayat 80 berbunyi, “yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”. Mungkin Anda bertanya, lho bukankah menyalakan api unggun itu dari kayu-kayu yang kering? Mana bisa kayu hijau yang basah dinyalakan ? Barangkali ini adalah isyarat Allah bahwa dalam daun-daun yang berwarna hijau tersimpan tenaga dahsyat laksana kekuatan api. Baru di zaman modern diketahui adanya zat “hijau-daun” atau klorofil yang menghasilkan Oksigen dan menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesis terus menerus. Tanpa kegiatan fotosintesis daun yang hijau itu, barangkali manusia telah lama punah karena kekurangan oksigen dan keracunan karbondioksida. Semua hal tadi dimuat dalam surat Yasin. Maka surat Yasin selain dibaca di acara kematian, sebaiknya juga dijaki beramai-ramai di laboratorium lalu ditelaah dari berbagai aspek guna mencari terobosan baru yang berguna bagi manusia.