Dua Timur Dua Barat
“Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya” [Ar Rahman 55:17]
Dalam surat Ar Rahman di atas, Allah swt menggugah rasa ingin tahu manusia dengan firman-Nya bahwa timur dan barat ada dua. Pernyataan ini tak pelak lagi menantang konsep kuno yang menganggap timur dan barat adalah suatu titik, suatu tempat. Dalam bahasa Arab, timur adalah masyriq, tempat terbit matahari, dan barat adalah maghrib, tempat terbenamnya matahari. Kita tahu bahwa timur dan barat tidak pernah ada, yang ada hanya arah yang sifatnya relatif dan abstrak, tidak ada wujudnya. Kita bisa berjalan ke timur, tetapi tidak akan sampai di tempat yang namanya Timur. Paling-paling bisa disebut lokasi yang berada di sebelah timur dari tempat sebelumnya.
Dalam majalah Al I’Jaz dan ‘Ilmi edisi Ramadhan 1425 H, Khalid bin Hamzah al-Madany mencoba meng ulas tentang ayat di atas. Makna Dua Timur dan Dua Barat merupakan fenomena tempat terbit dan terbenamnya matahari yang berubah-ubah sepanjang musim untuk daerah belahan bumi di utrara dan selatan katulistiwa. Tetapi ulasan ini masih terkait dengan tempat terbit dan terbenamnya matahari. Sebetulnya apabila direnungkan lebih dalam lagi, barangkali Allah bermaksud mengajak manusia merekonstruksi segala konsep tentang timur dan barat selama ini. Selain bukan titik, arah timur dan barat itu pun tidak hanya satu. Bisa dua. Bisa banyak. Bisa tak terhingga. Bisa juga hilang. Bila kita berdiri persis di Kutub Utara, timur dan barat akan lenyap. Kenamapun kita menghadap, arahnya Selatan. Di Kutub Selatan, kemanapun kita menghadap hanya ada utara. Timur dan barat juga tidak ada di sana. Kalau kita bisa menyelam sampai ke pusat bumi, arah timur dan barat menghilang. Kalau kita terbang ke angkasa luar, timur, barat, utara, dan selatan, hilang semua.
Di suatu planet yang satu sisinya selalu menghadap matahari dan sisi lainnya selalu mengalami malam gelap, tak ada timur arah matahari terbit dan tak ada barat arah matahari terbenam. Sedangkan untuk posisi di permukaan matahari, ke mana timur arah matahari terbit, dan ke mana barat tempat matahari terbenam ? Matahari ternyata berputar pada porosnya. Barangkali timur bisa didefinisikan menjadi arah yang sama dengan arah putaran benda langit tersebut. Bila setiap benda langit memiliki arah rotasi masing-masing, berarti setiap benda punya timur dan barat masing-masing. Ini bertambah menyakinkan kita akan kebenaran firman Allah bahwa timur dan barat itu banyak sekali. Bila perjalanan kita lebih jauh lagi menjauhi tata surya sampai mtahari kita tampak makin kecil dan lenyap, hilang juga timur dan barat. Ketika mendarat di planet galaksi lain dimana mataharinya kembar, perlu definisi lain lagi tentang timur dan barat. Kemanapun kita pergi, ke bawah tanah atau ke atas keluar angkasa, istilah timur dan barat melebur dalam kemajemukan dan ketiadaan makna. Subhanallah. Kebanggaan semua bahwa budaya timur atau barat lebih unggul, juga menjadi kehilangan makna. Sebagaimana firman Allah, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” [Al Baqarah 3:177]
Sungguh alangkah luasnya jangkauan ayat Al Quran yang kebenarannya tak terbantahkan. Dalam surat Ar-Rahman sendiri, tidak kurang dari 50 kali Allah bertanya kepada manusia sekalian, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang ingin kamu dustakan” [Ar-Rahman 55:25]