Milikilah Planning A, Planning B, dan Planning C
Yup, cukup 3 jenis planning saja dan itu akan membuat hidup Anda lebih tenang.
Di setiap situasi, biasakan untuk memiliki rencana cadangan. Rencana ini harus dipikirkan matang, dan strategis. Jangan berpikir "bagaimana nanti". Tapi berpikirlah "nanti bagaimana". Meskipun katanya dibalik, tetapi maknanya berbeda 180 derajat. Jika Anda memiliki tujuan hidup, dan tujuan itu menjadi plan A dalam diri Anda. Maka buat juga rencana cadangan plan B jika sewaktu-waktu plan A gagal atau mungkin tidak sesuai dengan yang diinginkan. Lalu buat juga plan C jika seandainya terjadi skenario terburuk plan B Anda juga gagal total.
Sebagai contoh studi kasus :
.NET Academy, pada awalnya saya menginginkan itu benar-benar diimplementasikan di kampus sebagai kurikulum. Tapi, tidak semua kampus mau adopsi hal tersebut karena berbagai macam faktor dan kepentingan. Maka ada kemungkinan plan A saya menjadi gagal. Maka saya rancang plan B, yakni dengan membuat .NET Academy menjadi semacam supplemen bagi kampus agar mahasiswanya bisa meningkatkan skill .NET selama belajar disana. Ya, modelnya akan sama seperti lembaga kursus lainnya. That's plan B. Kemudian, ada kemungkinan juga rencana untuk menjadikannya lembaga kursus di kampus itu juga gagal, maka harus dibuatlah plan C, yakni dengan bekerja sama dengan pihak ketiga dimana saya menjadi trainer plus content supplier, dan pihak ketiga tersebut menjadi host dan menyediakan ruangan dan PC untuk training. Semua planning (A, B, C) saya buatkan hitungan kalkulasi keuangannya. Termasuk prediksi di tahun pertama, kedua, dan ketiga. Juga termasuk hitungan RoI (Return of Investment) serta benefit jangka panjang yang dihasilkan. Jadi, dari situ saya bisa lebih cukup tenang jika seandainya ada sesuatu pada planning saya yang gagal maka saya bisa cepat-cepat banting stir ke planning berikutnya. Setidaknya, hal ini membuat hidup lebih tenang.
Di kantor juga begitu. Me-manage code itu lebih mudah daripada me-manage karyawan. Ya. Mengatur karyawan perlu cara khusus tersendiri. Lain orang, lain karakteristik. Bagaimana kita bisa memahami karakteristik masing-masing karyawan dengan segala kelebihan dan kekurangannya itu yang lebih penting. Kantor tidak hanya tempat karyawan mencari nafkah, tapi juga mencari ilmu, mencari relasi. Kita harus bisa membuat karyawan menjadi lebih cerdas saat bekerja di kantor kita. Jangan jadikan karyawan sebagai sapi perah. Tapi karyawan harus diperlakukan sebagaimana layaknya bagian dari perusahaan(tentunya dalam batas-batas yang wajar). Dari situ akan timbul loyalitas. Kondisi dimana karyawan tidak perlu kita suruh untuk melakukan sesuatu tetapi dia akan dengan sadar melakukannya untuk kita. Metode seperti ini sudah saya terapkan di kantor saya sekarang. Dan it works ! Alhamdulillah. Hal itu bisa terjadi bukan tanpa perencanaan. Saya tetap harus membuat plan A, plan B, dan plan C agar bisa menumbuhkan loyalitas karyawan dan pada akhirnya menaikkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Selama kurang lebih 1 tahun ini saya coba implementasikan berbagai pendekatan baik psikologis, finansial, maupun teknis untuk menjadikan karyawan loyal. Metode yang saya ramu sendiri setelah membaca banyak buku-buku yang memberikan banyak inspirasi.
Jadi, jika plan A gagal, masih ada plan B. Jika plan B gagal, masih ada plan C. Dan jika plan C gagal juga, maka ada yang salah dengan cara Anda me-manage dan membuat planning. Hal itu harus diperbaiki dari 'core'-nya. Something wrong with your brain. Mungkin kurangnya pengetahuan mengenai disiplin keilmuan pendukungnya, atau hal lain. Harus Anda evaluasi dahulu.