180 pertanyaan dalam RFP
Wuih, ini adalah RPF terpanjang yang pernah saya dapatkan dalam suatu project. Tidak tanggung-tanggung, 180 pertanyaan dalam satu RPF. Ini memang persyaratan dari client karena memang ada standar audit pada sistem mereka yang mengharuskan setiap calon vendor menjawab secara gamblang dan jelas setiap pertanyaan yang mereka ajukan. Mulai dari sisi profile perusahaan, keuangan, hingga teknikal. Dan menariknya, ini harus bisa dipresentasikan dalam waktu 2 jam sesi presentasi. Tantangan yang cukup menarik dan menantang. Kenapa ini menarik ? Sebab perlu kejelian untuk memilih apa yang ingin kita sajikan pada presentasi. Dari 180 pertanyaan, tidak mungkin semuanya kita buatkan presentasinya. Bisa habis waktu 2 jam. Perlu kecermatan dan kejelian untuk mengambil jenis pertanyaan kunci dan pertanyaan penting yang akan dipresentasikan. Dan alhamdulillah, ternyata presentasi kita disukai dan cocok dengan harapan client. Saya sendiri perlu waktu 2 hari untuk memilah dan menentukan jenis pertanyaan yang akan kita jawab dan kita masukkan ke dalam presentasi. Inilah yang saya maksud tantangannya.
Di sisi functional requirement saja ada banyak item yang harus dijawab dan di demonstrasikan seperti misalnya :
- Vendor Background (22 pertanyaan)
- Security (7 pertanyaan)
- Content Creation (31 pertanyaan)
- Asset Support (2 pertanyaan)
- Workflow Management (12 pertanyaan)
- Administrative Reporting (6 pertanyaan)
- Search (3 pertanyaan)
- Content Deployment (2 pertanyaan)
- Enterprise Integration (4 pertanyaan)
- Hosting (12 pertanyaan)
- Documentation (7 pertanyaan)
- Training (3 pertanyaan)
- Application Construction and Methodology (50 pertanyaan)
- Pricing (11 pertanyaan)
Dan menariknya, saya jawab semua pertanyaan itu seperti halnya air mengalir menggunakan ... DotNetNuke. Ini sekali lagi membuktikan bahwa DotNetNuke cocok pada 90% skenario bisnis seperti yang di claim oleh core teamnya. Saking penasarannya, setelah kita menang, saya tanya ke si pembuat RFP, apakah dia kenal DotNetNuke ? Jawabannya sangat mengejutkan. Tim pembuat RFP hanya kenal nama "DotNetNuke" saja tanpa tahu persis apa itu DotNetNuke. Sama sekali mereka tidak pernah menggunakan DotNetNuke. Kenapa saya tanya seperti ini ? Karena saya heran, kok apa yang tertera pada pertanyaan teknikal itu benar-benar cocok dengan fitur DotNetNuke sehingga saya bahkan berasumsi pembuatnya paling tidak pernah pake atau mengenal DotNetNuke sangat dalam. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ternyata adalah murni standar pertanyaan yang tertuang pada mekanisme sistem audit mereka. Jadi, mereka sendiri baru tahu kalau DotNetNuke ternyata bisa cocok dengan kebutuhan mereka. 90% skenario bisnis ditambah third party custom module itu menjadi sekitar 95% kebutuhan mereka telah tercover. Sisanya adalah custom module development internal.
Pengalaman yang menarik. Ini membuat DotNetNuke sekali lagi teruji ketangguhannya dari sisi skenario bisnis, dan membuktikan bahwa DNN tidak sekedar CMS, tetapi benar-benar telah menjadi Web Application Framework seperti yang dicita-citakan oleh core team dan komunitasnya serta pencintanya.