Dikutip dari email MCA di milis group leader Indonesia .NET Developer Community, tentang syndrome 30 di Development. Ini sangat menarik sekali, terutama jika ini dihubungkan dengan salah satu slide dari Mas Risman. Dari beberapa seminar dikampus yang bersama dengan mas Risman dimana salah satunya menyinggung tentang posisi indonesia di grafika trend development. Disitu indonesia masuk dalam kategori demand yang tinggi artinya indonesia masuk dalam kelompok konsumsi software yang tinggi tetapi hasil atau outputnya tidak ada artinya lagi indonesia jarang menghasilkan suatu product yang “Indonesia banget” malahan sibuk dengan mencari software sana-sini bahkan sampai bajak-membajak.
Asumsikan indonesia negara pembajak software, artinya indonesia “tidak susah mencari software” dengan demikian secara logika indonesia dapat mudah membuat software (??) tetapi mengapa indonesia tidak dapat menghasilkan karya software atau product software yang mendunia seperti DAP, yahoo, Visual Build, dll.., Kalau ini dikaji lebih dalam maka akan banyak pertanyaan seperti
- Dimanakah para developer dan architect indonesia?
- Pada ngapai hai para developer indonesia ?
- Para architect dimana? menyibukkan diri atau apa?
- Apakah para developer pindah menjadi penjual sembako ?
- Apakah para architect pindah profesi menjadi politikus ?
Penyakit Syndrome 30 dikalangan Para Developer dan Architect
Kalau diamati, syndrome 30 dapat dikategorikan penyakit psikologis yang mana ini mempengaruhi pola pikir dan pola kerja. Efek dari syndrome ini adalah menurunnya produktifitas software development. Gejala seseorang yang terjangkit penyakit ini adalah
- Tidak ada paper ilmiah/professional yang dihasilkan
- Tidak ada code yang dihasilkan
Ngerinya lagi, penyakit ini dapat mengrogoti kemampuan logika kita dalam develop atau design software. Untuk mengecek apakah kita terjangkit penyakit ini atau tidak dapat dibaca ciri-ciri sebagai berikut:
- Mengampangkan code atau design
- Menganggap bisa karena punya pengalaman x walaupun pengalaman x tidak sama dengan kasus y
- Waktu merasa sedikit
- Terlalu takut mengambil decision
- Terjebak dalam beberapa pattern yang memang tidak perlu diterapkan disuatu kasus (for architect)
- No action talk only
Para developer dan Architect Menghilang
Hal yang menarik disini juga adalah hilangnya sang actor yaitu developer dan architect dari dunia IT. Pada beberapa developer yang sudah terjangkit maka kebanyakan mereka pindah profesi ke bidang lain tetapi masih tetap mengaku-ngaku experience di IT. Bagi yang lulus, biasanya para developer naik ke level architect.
Pada posisi achitect, posisi ini adalah posisi kritis, mengapa? karena seorang architect bisa berpijak didua dunia yaitu management dan development. Kalau dari pengamatan saya, seorang architect harus mempunyai proposional di development 70% dan 30% di management. kalau architect banyak di management maka architect ini akan jauh dari yang diharapkan sehingga lambat laun ngobrolnya menjadi “high level”. Hal ini sangat berbahaya ketika memandang suatu software dari segi high level saja akibatnya ini akan jauh bahkan meleset dari yang sebenarnya.
Pada posisi architect juga, banyak yang gak bertahan lama karena kebanyakan dari mereka pergi atau pindah profesi ke managerial..
Kalau para developer dan architect menghilang dari tahun ketahun....maka indonesia akan menjadi negara mengkonsumsi software terbesar....Tidak ada karya di product software dan tidak ada paper yang dihasilkan..
Para developer dan architect indonesia, ditangan kalian adalah pundak-pundak harapan bangsa dan hasil tulisan lewat keyboardmu akan menghasilkan maha karya yang berguna bagi dunia ini.
Ada komentar ? ditunggu