Microsoft Gerilya Kampus, Pupuk Inovasi Piranti Lunak
MIC ITB & UGM diliput, Pak Risman, Pak Ridi, Pak Cik Zeddy, Pak (?) Ronald diwawancarai.
Kapan di BiNus ada MICnya ya... ??
* * *
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/07/time/142943/idnews/863749/idkanal/319
Jakarta - Inovasi lahir bukan dari fasilitas tapi dari
manusia yang berpikir. Itu mengapa perusahaan seperti Microsoft tidak
lahir dari sebuah gedung berfasilitas lengkap tetapi dari dua manusia
yang memiliki visi.
Prinsip yang sama berlaku pada Microsoft
Innovation Center (MIC) yang didirikan Microsoft Indonesia di empat
kampus. "Yang menggerakkan adalah orang-orang di MIC tersebut, bukan
perangkatnya. Tanpa orang-orang itu, MIC itu hanya ruangan, seperti
laboratorium biasa," papar Risman Adnan, ISV Lead, Developer and
Platform Evangelism Group, Microsoft Indonesia.
MIC Microsoft
saat ini telah didirikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada
(UGM) Yogyakarta, dan Universitas Indonesia (UI) Depok. Masing-masing
MIC, tutur Risman, tumbuh secara organik dengan keunggulan
masing-masing.
Zeddy Iskandar, Academic Developer Evangelist,
Developer and Platform Evangelism Group, Microsoft Indonesia,
mengatakan ke depannya MIC juga akan didirikan di Universitas Udayana,
Bali, serta di sebuah universitas di Sumatera.
Produk di Jogja, Pondasi di ITB
Setiap
MIC memiliki sosok pemimpin yang dikenal dengan istilah MIC Lead.
Bersama anggotanya, para MIC Lead inilah yang kemudian akan menentukan
fokus MIC di setiap kampus.
Namun secara umum, semua MIC
memiliki kegiatan rutin berupa pelatihan teknologi pengembangan piranti
lunak terkini dari Microsoft. Selain itu juga kursus manajemen bisnis
dan marketing.
"Jadi yang kami lakukan di MIC itu ada tiga hal.
Istilahnya Si Sapi, singkatan dari Self Improvement, Skill Accelerator
dan Product Innovation," ujar Ridi Ferdiana, MIC Lead di UGM.
UGM,
papar Ridi, memiliki fokus lebih besar pada Product Innovation. Menurut
Ridi ini dimulai dengan melakukan eksplorasi teknologi terbaru yang
dilanjutkan dengan mencoba melihat kemampuan teknologi itu dalam
memecahkan suatu masalah bisnis. Kemudian, ujar Ridi, tim MIC UGM akan
mengembangkan prototipe atau quick mocks aplikasi yang memanfaatkan
teknologi tersebut.
Risman mengatakan, selain pengembangan
aplikasi, MIC UGM saat ini juga memberikan online support bagi konsumen
Microsoft. MIC UGM juga disebutnya kerap mengerjakan proyek
penerjemahan dokumentasi teknis.
Lain di Yogyakarta, lain lagi
di Bandung. MIC di ITB, ujar Risman, lebih fokus pada pengembangan
pondasi teknologi. Risman mencontohkan hal-hal seperti pengembangan
algoritma untuk mesin cari sebagai fokus yang kerap digarap MIC ITB.
Pengembangan
dari sisi teknis fundamental ini dirasa lebih cocok dengan
karakteristik mahasiswa ITB. Selain itu, MIC ITB secara tidak resmi
menjadi pusat untuk pengembangan calon peserta kompetisi piranti lunak
internasional Imagine Cup di Indonesia. "Tahun 2008 kami usahakan
software Imagine Cup dari ITB lahir di MIC," tutur Ronald, MIC Lead di
ITB.
Mak Comblang
Kegiatan lain
dari MIC adalah menghubungkan para anggotanya dengan industri piranti
lunak di Indonesia. Salah satunya dilakukan dengan membuat semacam
forum antara akademisi dengan industriawan sehingga pihak industri bisa
memberikan masukan mengenai kurikulum seperti apa yang cocok agar
menghasilkan calon tenaga kerja yang siap menghadapi lingkungan bisnis.
Bentuk lain dari kerjasama dengan bisnis adalah program Student to Business (S2B). Program ini merupakan rekrutmen langsung dari Independent Software Vendor (ISV) lokal ke MIC. "Kami ibaratnya mak comblang antara mahasiswa di MIC dengan ISV yang membutuhkan tenaga kerja," ujar Zeddy.
Zeddy mengungkapkan, program S2B
pertama kali dilakukan di MIC UI pada Juli 2007. Ketika itu, ujar
Zeddy, PT Kontinum Era Artha melakukan rekrutmen langsung melalui MIC
UI dan hasilnya, tujuh mahasiswa direkrut sebagai pekerja full time di
Kontinum.
Kegiatan itu, lanjut Zeddy, telah diulangi di UGM
dengan peserta PT Infoflow Solutions, PT Qpro Sukses Mandiri, dan
Kontinum. Hasilnya sebanyak 11 mahasiswa lolos rekrutmen. Sedangkan di
ITB, program S2B dengan peserta Concept.net dan Kontinum juga telah
dilakukan. Hasilnya, ujar Zeddy, ada sekitar tiga mahasiswa yang
direkrut.
Meski setiap MIC bertempat di kampus tertentu, anggota
MIC tersebut menurut Zeddy bisa berasal dari kampus-kampus lain di
sekitarnya. Di masa depan, Zeddy mengatakan, MIC diharapkan akan
berkembang menjadi pusat-pusat pengembangan teknologi piranti lunak di
Indonesia.
"Kami berharap, suatu saat MIC bisa self sustaining.
Sehingga setiap MIC ke depannya bisa memiliki tiga bagian, satu untuk
komersial/bisnis, satu untuk pelatihan, dan satu lagi untuk research and development," paparnya.
Dengan
adanya fokus yang berbeda-beda di tiap MIC, namun diiringi semangat
pengembangan yang serupa, tak sulit untuk membayangkan bahwa suatu saat
seluruh MIC bisa memadukan kekuatan untuk menghasilkan produk inovasi
piranti lunak yang istimewa.
Namun, satu-satunya yang bisa
mewujudkan hal itu hanyalah orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Merekalah yang bisa menggerakan MIC itu sehingga menjadi melting pot
dalam mewujudkan knowledge based society dan juga embrio untuk mengembangkan local software economy.
( wsh / wsh )