-->

Nusantara Online dari Sangkuriang Studio (wsh/inet)
Jakarta
- Mungkin masih belum sempurna, tapi geliat pengembang piranti lunak
lokal semakin lama kian menggembirakan. Sudah saatnya kita mulai bangga
pada software buatan indonesia.
Risman Adnan, ISV Lead, Platform
and Developer Evangelism Group Microsoft Indonesia, memperkirakan ada
sekitar 500-an Independent Software Vendor (ISV) lokal di Indonesia.
Data yang dimiliki Microsoft menyebutkan, sebanyak 251 ISV bercokol di
Jakarta.
Dari 500-an ISV yang ada di Indonesia, kebanyakan di
antaranya diperkirakan masih berbisnis bak tukang jahit. Artinya,
mereka hanya mengerjakan piranti lunak berdasarkan pesanan perusahaan
lain.
Mengikuti analogi tukang jahit itu, ada beberapa ISV yang
boleh dibilang sudah 'naik kelas' menjadi perancang busana. Ini adalah
ISV yang berani menggodok produk mereka dan kemudian menawarkannya ke
pihak lain.
Microsoft Indonesia memiliki sebuah program yang
bernama Bina ISV. Program ini merupakan upaya Microsoft untuk
menjembatani ISV dengan industri. Program Bina ISV berfungsi sebagai
katalisator untuk membentuk sebuah ekosistem yang terdiri dari
pengembang piranti lunak lokal, pihak korporasi, pemerintah, komunitas
pengembang dan lembaga pendidikan tinggi.
Dalam perjalanan ke
Yogyakarta dan Bandung, 3-5 Desember 2007, Microsoft memperkenalkan
beberapa ISV dari program Bina ISV. Mereka adalah perusahaan piranti
lunak lokal yang mulai menunjukkan geliat yang menggembirakan.
Rent@softRen-at-soft
atau Rent@soft merupakan sebuah ISV yang bermarkas di Semarang, Jawa
Tengah. Perusahaan yang fokus di pengembangan piranti lunak untuk Rumah
Sakit dan Bank ini sudah mulai beroperasi sejak 2005.
Tonny
Loekito, Direktur Rent@soft mengatakan pihaknya mengikuti program Bina
ISV sejak 2006. "Sebelum itu, kami tidak tahu standar internasional dan
best practises dalam pengembangan piranti lunak. Setelah
mengikuti Bina ISV kami dibantu mempelajarinya, sehingga mampu
menghasilkan piranti lunak dengan standar internasional," ujarnya.
Zeddy
Iskandar, Academic Evangelist, Platform and Developer Evangelism Group
Microsoft Indonesia, mengatakan banyak ISV yang mengalami hal serupa
dengan Rent@soft melalui program Bina ISV.
"Biasanya pengembang itu
kan hajar bleh. Susahnya, ketika ada perubahan pada
business foundation process, harus rombak lagi, harus
hajar bleh lagi. Padahal dengan menerapkan standar pengembangan, mereka tak perlu repot-repot begitu lagi," ujar Zeddy.
Rent@soft saat ini memiliki produk unggulan Rhinotones, yaitu sebuah
web based hospital system.
Piranti lunak itu saat ini digunakan oleh jaringan Aibee Hospital dan
Rumah Sakit Hosana. Prestasi yang cukup menjanjikan mengingat
perusahaan itu hanya memiliki lima karyawan.
DyCodeISV
lain dari program Bina ISV adalah DyCode Cominfotech Development
(DyCode). Perusahaan yang berbasis di Bandung ini telah mengembangkan
beberapa produk piranti lunak, salah satunya adalah PortMan: Port
Management System yang digunakan oleh pelabuhan swasta terbesar di
Indonesia.
PortMan memungkinkan pengelolaan pelabuhan dilakukan secara
online,
baik untuk pemesanan tempat berlabuh yang dilakukan oleh pelanggan
maupun untuk manajemen pelabuhan dan perencanaan waktu/tempat sandar
yang dilakukan oleh pengelola pelabuhan.
Uniknya lagi, PortMan
memiliki modul yang memungkinkan manajemen pelabuhan dilakukan melalui
Microsoft Excel. Menurut Andri Yadi, Pendiri dan Presiden Direktur
DyCode, modul Excel itu dipilih agar pengguna bisa menjalankan aplikasi
dalam lingkungan piranti lunak yang sudah akrab.
Selain PortMan,
DyCode saat ini juga telah mengembangkan produk pemantau pengeboran
secara real-time. Produk bernama Dreal: Drilling Real Time Logging
System ini digunakan oleh perusahaan pertambangan untuk memantau
pengeboran yang sedang berlangsung.
Sangkuriang StudioSalah
satu anggota termuda dalam Bina ISV adalah Sangkuriang Studio.
Pengembang game online ini terdiri atas mahasiswa dan lulusan Insitut
Teknologi Bandung (ITB) yang rata-rata masih berusia 22-23 tahun.
Meski
tergolong muda, pengembang di balik Sangkuriang Studio boleh dibilang
sudah tidak 'hijau' lagi. Oka Suganda, Ketua Sangkuriang Studio,
termasuk dalam tim yang mewakili Indonesia dalam ajang lomba software
sedunia Imagine Cup 2006. Demikian pula beberapa anggota Sangkuriang
Studio yang lainnya yang mengikuti ajang serupa di 2005.
Produk
yang sedang dikembangkan Sangkuriang Studio adalah Nusantara Online,
sebuah Massive Multiplayer Online Role Playing Game (MMORPG)
berlatarbelakang sejarah Indonesia pada Abad 14.
Dalam ajang
Indonesia ICT Awards 2007, Nusantara Online mendapatkan juara kedua.
Sedangkan dalam ajang Kontes Game Edukasi Indonesia, game yang masih
dalam tahap pengembangan ini meraih juara umum.
Nusantara Online merupakan game tiga dimensi yang menggunakan
engine
Angel yang juga dikembangkan oleh Sangkuriang Studio. Angel, singkatan
dari Another Game Engine Library, menurut Oka bisa digunakan sebagai
platform pengembangan game lainnya.
Saat
ini Sangkuriang Studio, yang baru bergabung dengan Bina ISV selepas
ajang Inaicta, sedang mencari investor untuk bisa mengembangkan
Nusantara Online. Oka mengatakan dibutuhkan kurang lebih satu tahun
untuk bisa menuntaskan game tersebut sebagai produk komersial.
Risman
Adnan mengatakan program Bina ISV berencana untuk mempertemukan
Sangkuriang Studio dengan investor. Hal itu, ujarnya, mungkin akan
dilakukan pada 2008.
"Saya harap mereka bisa mendapatkan
investor sehingga bisa fokus mengembangkan game ini. Sebab kalau tidak,
bisa bubar. Sebab dalam tahap ini ISV itu masih labil dan bisa-bisa
pecah. Apalagi kalau anggotanya sudah mulai ditarik menjadi pengembang
di perusahaan-perusahaan besar," ujar Risman.
Risman mengatakan,
rahasia sukses untuk sebuah ISV adalah berani untuk fokus pada satu
produk atau bidang tertentu. "Jika sebuah produk mampu bertahan minimal
tiga tahun saja, itu sudah ada lifecycle-nya, sudah bisa hidup," ujar
Risman.
Semoga saja apa yang dilakukan Rent@soft, DyCode,
Sangkuriang Studio, dan juga ISV lainnya di Indonesia tidak berhenti di
sini saja. Keberhasilan para ISV pada akhirnya akan berdampak pada
pertumbuhan
local software economy yang kemudian ikut
menumbuhkan industri teknologi informasi di Indonesia secara
keseluruhan. Masa depan, agaknya, ada di pundak para
developer.
( wsh / wsh )