Internet Mati!
Indonesian
Internet mati! Wah, apa yang salah?
Kalau saja kejadian internet mati terjadi 10 tahun yang lalu, mungkin kita tidak akan terlalu ambil pusing. Mungkin yang pusing, kita-kita yang sudah menggunakan internet di kampus. Tapi dalam beberapa tahun belakangan ini, internet seakan sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat - terutama masyarakat industri dan tentunya orang-orang yang sering bergaul dengan email, chatting, blog, P2P dsb.
Membaca detik.com, telah terjadi kerusakan jaringan bawah laut akibat gempa yang terjadi di Taiwan. Dan masih menurut sumber yang sama, perbaikan akan memakan waktu lebih dari 2 minggu. Waduh, 2 minggu? Seharian ini saja sudah merepotkan apalagi 2 minggu.
Lhoh, kok Taiwan yang mati, kita kena juga?
Jaringan di Indonesia terhubung ke backbone internet melalui network hub yang ada di Taiwan. Dan seperti yang diduga, ada banyak "ternyata" dibalik itu semua.
1. Ternyata, kita tidak memiliki akses ke backbone internet dunia (alias tier-1, kata detik lagi)
2. Ternyata, meskipun ada banyak satelit di atas negara kita, belum ada ring network alternatif
3. Ternyata, kita masih sangat bergantung pada komunitas di LN
1 dan 2 mungkin jauh dari jangkauan kita, tapi 3 ini bisa kita perbaiki.
Saya mencoba melakukan searching via www.google.co.id, hasilnya masih banyak dari network LN - dan bisa diduga semuanya gagal dibuka dengan kondisi seperti ini. Didalam negeri sendiri sudah ada banyak situs, dan hampir semuanya bisa dibuka dengan mudah, namun sangat jarang yang berisi update teknologi (mungkin kalau saya adalah orang BEJ, yang dicari adalah update saham -:)).
Mencari update teknologi dari forum diskusi juga sulit - karena jarang sekali terjadi diskusi di forum-forum teknologi di Indonesia. Diskusi di netindonesia.net sendiri juga tidak terlalu banyak traffic-nya (atau mungkin saya yang salah n tidak mengikuti?). Hmm...
Mungkin kita terlalu malu untuk bertanya... atau mungkin kita terlalu sulit untuk membuat pertanyaan. Kalau orang negeri lain bisa berdiskusi dengan bahasa mereka masing-masing, tentu kita juga bisa melakukannya. Lupakan EYD (khusus yang sudah lulus SMA -:)) - yang penting adalah gunakan bahasa kita sendiri.