Apakah metode terbaik untuk mengimplemetasikan DRP (Disasters Recovery Plan) pada Microsoft SQL Server?
Artikel itu saya buat dikhususkan untuk pada Database Administrator SQL
Server yang mempunyai database SQL Server dengan tingkat availability
yang sangat tinggi.
Apa yang dimaksud dengan DRP (Disasters Recovery Plan)?
Disasters
Recovery Plan, atau saya singkat DRP, adalah metode/rencana yang
diterapkan/disusun oleh kita apabila terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan terjadi pada database atau mesin tempat menyimpan database
yang kita punyai, sehingga menimbulkan rusak atau bahkan hilangnya data
pada database kita. Hal-hal yang tidak diinginkan tersebut bisa
bermacam-macam, misalnya data terhapus, mesin tempat menyimpan database
kita rusak, kebakaran pada ruang tempat menyimpan mesin database kita,
bencana alam dan lain sebagainya.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengimplementasikan DRP
Sebelum
kita membuat metode/rencana/langkah-langkah yang akan kita pakai dalam
mengimplementasikan DRP ini, ada beberapa hal yang harus kita
perhatikan berkaitan dengan implemetasi DRP ini. Hal-hal yang harus
diperhatikan tersebut antara lain adalah :
Buat suatu list yang yang diurutkan berdasarkan tingkat availability dari semua database yang ada dalam mesin/server kita
Bedakan lokasi tempat menyimpan mesin/database/backup kita dengan lokasi tempat menyimpan mesin/database yang sedang running
Pilih
metode yang terbaik untuk metode DRP ini, disesuaikan dengan semua
resources yang ada pada kita, kalau memang kita tidak bisa mengeluarkan
anggaran tambahan untuk implemetasi DRP ini.
Lakukan simulasi metode DRP yang telah kita tetapkan
Lakukan pengecekkan metode DRP secara berkala
Lakukan review terhadap metode DRP yang telah kita terapkan
Metode manakah yang terbaik?
Microsoft SQL Server menyediakan beberapa metode untuk mengimplementasikan DRP ini.
Data Transformation Services (DTS)
DTS
bisa digunakan untuk meng-copy objek-objek database dan data antara
database yang berbeda dalam server yang sama atau dengan server yang
berbeda.
Keuntungan :
- Menyediakan wizard yang user friendly
- Menyediakan fasilitas untuk bisa membuat functionality secara programmatic
- Data bisa di transfer ke dalam berbagai macam format
Kerugian :
- Tidak bisa dijadikan warm-standby server
-
Memakai resources server dan bandwidth yang besar, sehingga apabila
database kita sudah berukuran besar, kemungkinan data tidak sinkron
akan besar
Kesimpulan :
Sangat sulit untuk maintain warm-standby
server dengan menggunakan DTS ini, karena kerugian-kerugian tersebut
diatas. Untuk itu, gunakan DTS untuk men-transfer data daripada
menjadikannya sebagai metode untuk DRP.
Bulk Copy (BCP)
BCP bisa dikatakan sebagai versi primitif dari DTS, karena bisa dijalankan dengan menggunakan command line.
Keuntungan :
- Efisien dan cepat dalam men-transfer data dengan ukuran yang besar
Kerugian :
- Sama kerugiannya DTS
- Tidak bisa digunakan untuk men-transfer objek database selain tables dan views
- User interface yang tidak bagus
- Tidak ada fungsi untuk scheduling
Kesimpulan :
Sangat
sulit untuk maintain warm-standby server dengan menggunakan BCP ini,
karena kerugian-kerugian tersebut diatas. Untuk itu, gunakan BCP untuk
men-transfer data dengan cepat daripada menjadikannya sebagai metode
untuk DRP.
Replication
Replication atau replikasi
men-transfer data dari satu database ke database lain, dan bisa juga
men-transfer dari SQL Server ke semua jenis ODBC data sources.
Replikasi ada 3 jenis :
-
Snapshot Replication : Transfer tables secara komplit dari satu
database ke database lain (tidak ideal untuk table yang besar)
- Transactional Replication : hanya men-transfer perubahan yang terjadi dalam database sumber
- Merge Replication : merupakan replikasi 2 arah, baik digunakan untuk data yang terdistribusi.
Keuntungan Transactional Replication :
- Hanya men-transfer perubahan yang terjadi dalam database sumber
- Dengan rencana yang baik, perbedaan antara database sumber dan database tujuan bisa diatur waktunya
- Enterprise Manager menyediakan user interface yang bagus
Kerugian :
- Banyak hal yang bisa menyebabkab proses replikasi ini terjadi error, diantaranya dalah :
o Tingkat availability dari server-server yang lain (publisher, distributor, subscriber)
o Availability SQL Server Agent
o Security permission dalam folder Snapshot
o Bandwidth network
o Hubungan antara publisher, subscriber and distributor
o Tempat ruang kosong dalam harddisk distribution database
- Semua table harus mempunya primary key
- Memerlukan perhatian besar dari database administrator dan harus dimonitor secara kontinyu
- Tidak bisa men-transfer objek database, seperti UDF (User Define Function)
Kesimpulan :
Selama
transactional replication bisa digunakan untuk men-transfer data antara
server yang satu dengan yang lainnya, tetap memerlukan setup dan
monitoring yang agak sedikit sulit. Sebagai pertimbangan gunakan
transactional database ini untuk maintain database reporting dengan
men-transfer dari OLTP database.
Clustering
Clustering
merupakan metode terbaik untuk High Availability karena bisa otomatis
memindahkan koneksi ke server lain bila server primer mengalami
masalah. Dalam cluster aktif/pasif, server sekunder secara terus
menerus momonitor server primer, dan akan segera mengambil alih apabila
server primer mengalami masalah.
Keuntungan :
- High Availability
- Tidak ada campur tangan user, ketika melakukam recovery server.
Kerugian :
-
Memerlukan SQL Server Enterprise Edition dalam tiap-tiap server,
sehingga memerlukan cost untuk licensing yang lebih mahal.
- Memerlukan spesifikasi hardware yang compatible untuk proses clustering.
- Sulit dalam mebuat konfiguransinya
- Memerlukan un-clustering dan re-clustering ketika akan mengimplementasikan SQL Server Service Pack.
- Memerlukan 2 koneksi yang dihubungkan decara fisik.
Kesimpulan :
Clustering
adalah merupakan salah satu cara yang terbaik untuk solusi High
Availability pada Microsoft SQL Server, tetapi bukan merupakan metode
pendekatan terbaik untuk DRP, kecuali kalau digabung dengan
metode-metode yang lain, seperti backup/restore, disk mirroring, dan
sebagainya.
Backup/Restore
Backup database menyediakan
duplikat dari database yang sedang running, dan proses backup juga
tidak hanya membuat duplikat dari suatu database tetapi termasuk dengan
objek-objek yang ada dalam database tersebut.
Keuntungan :
- Membuat duplikat data dan objek dalam database dengan sama persis.
- Bisa mudah diimplementasukan dengan menggunakan wizard Database Maintenance Plan
- Hanya memerlukan sedikit resources untuk monitoring, karena hanya sekali di configure
Kerugian :
- Ketika melakukan proses restore, database harus dalam keadaan single user mode
Kesimpulan :
Dengan
mengkombinasikan full database backup dan transaction log backup bisa
dijadikan salah satu alternatif sebagai metode untuk proses DRP.
Log Shipping
Log
shipping ada proses pemindahan/peng-copy-an transaction log files
secara otomatis. Log Shipping memerlukan server primer dan server
sekunder yang harus kita tetapkan.
Keuntungan :
- Log Shipping
menyediakan kapabilitas untuk proses copy dan restore log files secara
otomatis berdasarkan durasi tertentu dan secara terus menerus.
- Dengan Log Shiping ini perbedaan data diantara server primer dan sekunder bisa dikurangi.
Kerugian :
- Tidak tersedia pada Microsoft SQL Server 7.0
Kesimpulan :
Log
Shipping boleh dikatakan sebagai metode DRP yang terbaik, karena resiko
kehilangan data sangat sedikit dan sedikti pula waktu untuk downtime.
Dari
semua uraian diatas kita bisa mengambil salah satu metode yang paling
baik manakah yang bisa diimplemetasi sebagai metode untuk DRP.