Farhad Alaydrus - Yet Another Geek's Blog

See also: Other Geeks@INDC

Prinsip “Keren” Dalam WPF User Experience

 

Windows Presentation Foundation menghadirkan suasana baru dalam pengembangan aplikasi desktop. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, WPF menyediakan akses ke tampilan antarmuka yang interaktif dan atraktif. Pengembangan aplikasi WPF tidaklah lepas dari pengembangan User Experience (UX) yang menjadi salah satu fokus teknologi ini. Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan sebelum mengembangkan UX pada WPF.

Prinsip pengembangan UX pada WPF didasarkan pada Windows User Experience Guidelines (Windows UX Guide) yang memang dirancang khusus untuk Windows. Karena WPF merupakan aplikasi desktop yang berjalan di Windows, maka suatu antarmuka aplikasi WPF sebaiknya tidak mengabaikan look and feel yang sudah ada di Windows. Developer dapat mengekspansi antarmuka dari look and feel windows konvensional tanpa mengabaikan ‘pakem’ yang telah ada.

Dengan WPF, seorang developer dapat mengembangkan control sesuka hatinya. Misalnya kita bisa saja membuat sebuah tombol yang berbentuk seperti combobox, atau mungkin sebuah combobox yang bekerja seperti lookup-box. Namun kebebasan desain ini perlu diimplementasikan dengan memperhatikan dasar-dasar yang telah ada di UI Windows. Tidaklah tepat jika sebuah drop-down list ketika diklik akan memunculkan popup lookup box. Atau tidaklah tepat jika sebuah button tidak terlihat clickable. Hal semacam ini hanya akan menghasilkan antarmuka yang “keren” namun tidak usable.

Berbicara mengenai istilah “keren”, kita harus dapat mengerti apa yang disebut “keren” dalam konteks WPF UX. WPF telah menyediakan komponen-komponen yang dapat digunakan. Komponen-komponen ini bagaikan kain, kancing serta bordir yang ada di meja penjahit. Bagus atau tidaknya baju yang dihasilkan tergantung bagaimana si penjahit merangkai kancing, kain dan bordir tersebut.  Sebuah aplikasi WPF dapat dikatakan “keren” jika:

-          Fitur yang diberikan sesuai untuk aplikasi dan sesuai untuk penggunanya. Aplikasi WPF yang ditujukan untuk anak-anak haruslah dapat memberi experience yang menyenangkan bagi anak-anak. Misalnya dengan menggunakan warna-warna dasar dan komplemen, kemudian menggunakan animasi yang lebih atraktif dan dinamis. Sedangkan aplikasi WPF untuk enterprise tentulah harus memiliki UI yang elegan, tidak terlalu ramai serta memberikan fitur yang secukupnya. Tidak perlu berlebihan dalam memberi fitur pada aplikasi WPF. Aplikasi yang terlalu banyak fitur akan seperti makanan yang terlalu banyak garam, jadi tidak bisa dinikmati.

-          Memiliki look and feel yang menyenangkan dan usable, dalam artian dapat dinikmati dan dapat digunakan dengan mudah. Hal ini dapat dicapai dengan memperhatikan sifat dasar suatu komponen. Misalnya, sebuah button yang baik akan memiliki volume sehingga terlihat “clickable”, kemudian button yang disable haruslah lebih redup dari yang sedang aktif. Contoh lainnya adalah sebuah textbox di WPF harus tetap visible dengan memperhatikan kontras warna textbox dengan backgroundnya.

-          Memberikan flow yang menarik pada aplikasi, misalnya penggunaan animasi secukupnya pada control, atau pada splash screen, dan sebagainya. Kita perlu menambahkan bumbu-bumbu secukupnya untuk membedakan aplikasi WPF kita dengan aplikasi windows form biasa.

-          Sebuah aplikasi WPF harus dapat dinikmati “sepanjang zaman”. Biasanya, sebuah aplikasi yang melibatkan animasi serta grafis yang “wah” akan menarik pengguna di awal penggunaan. Pengguna akan berkata “wow,animasinya keren”. Satu dua kali melihat animasi tersebut, pengguna akan bosan dan akhirnya malas untuk melihat animasi tersebut. Oleh karena itu penggunaan animasi pada sebuah aplikasi wpf perlu dibatasi. Durasi animasi sebaiknya tidak lebih dari satu atau dua detik. Misalnya kita membangun aplikasi WPF yang ketika user membuka window aplikasi tersebut, si Window akan berputar-putar di layar, berubah warna, membesar, kemudian dengan efek bounce kembali ke posisi tengah dengan disertai musik selama 30 detik. Pada awalnya ini akan menjadi menarik bagi pengguna, tetapi semakin lama, fitur ini akan menjadi “annoying”. Gunakanlah animasi dan grafis secukupnya dalam durasi yang tidak terlalu panjang. Satu atau dua detik cukup.

Sebuah desain aplikasi yang “keren” dapat menjadi tidak berguna jika tidak sesuai dengan target penggunanya. Oleh karena itu sebelum mendesain aplikasi WPF, perlu diperhatikan terlebih dahulu siapa yang akan menggunakan aplikasi ini. Siapa pengguna aplikasi Anda? Bagaimana karakteristik pengguna aplikasi Anda? Berapa umur mereka? Bagaimana lingkungan kerja mereka? Developer dapat menggunakan persona atau mempertimbangkan penggunaan konsep Usability Engineering Lifecycle dalam penentuan karakteristik pengguna.

 

 

Share this post: | | | |

Comments

No Comments