Prinsip “Keren” Dalam WPF User Experience
Windows Presentation
Foundation menghadirkan suasana baru dalam pengembangan aplikasi desktop. Seperti
yang sudah kita ketahui bersama, WPF menyediakan akses ke tampilan antarmuka
yang interaktif dan atraktif. Pengembangan aplikasi WPF tidaklah lepas dari
pengembangan User Experience (UX) yang menjadi salah satu fokus teknologi ini. Ada
beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan sebelum mengembangkan UX pada
WPF.
Prinsip
pengembangan UX pada WPF didasarkan pada Windows User Experience Guidelines
(Windows UX Guide) yang memang dirancang khusus untuk Windows. Karena WPF merupakan
aplikasi desktop yang berjalan di Windows, maka suatu antarmuka aplikasi WPF sebaiknya
tidak mengabaikan look and feel yang sudah ada di Windows. Developer dapat
mengekspansi antarmuka dari look and feel windows konvensional tanpa
mengabaikan ‘pakem’ yang telah ada.
Dengan WPF,
seorang developer dapat mengembangkan control sesuka hatinya. Misalnya kita
bisa saja membuat sebuah tombol yang berbentuk seperti combobox, atau mungkin
sebuah combobox yang bekerja seperti lookup-box. Namun kebebasan desain ini
perlu diimplementasikan dengan memperhatikan dasar-dasar yang telah ada di UI Windows.
Tidaklah tepat jika sebuah drop-down list ketika diklik akan memunculkan popup
lookup box. Atau tidaklah tepat jika sebuah button tidak terlihat clickable.
Hal semacam ini hanya akan menghasilkan antarmuka yang “keren” namun tidak
usable.
Berbicara mengenai
istilah “keren”, kita harus dapat mengerti apa yang disebut “keren” dalam
konteks WPF UX. WPF telah menyediakan komponen-komponen yang dapat digunakan.
Komponen-komponen ini bagaikan kain, kancing serta bordir yang ada di meja
penjahit. Bagus atau tidaknya baju yang dihasilkan tergantung bagaimana si
penjahit merangkai kancing, kain dan bordir tersebut. Sebuah aplikasi WPF dapat dikatakan “keren” jika:
-
Fitur yang diberikan sesuai untuk aplikasi dan
sesuai untuk penggunanya. Aplikasi WPF yang ditujukan untuk anak-anak haruslah
dapat memberi experience yang menyenangkan bagi anak-anak. Misalnya dengan
menggunakan warna-warna dasar dan komplemen, kemudian menggunakan animasi yang
lebih atraktif dan dinamis. Sedangkan aplikasi WPF untuk enterprise tentulah
harus memiliki UI yang elegan, tidak terlalu ramai serta memberikan fitur yang
secukupnya. Tidak perlu berlebihan dalam memberi fitur pada aplikasi WPF.
Aplikasi yang terlalu banyak fitur akan seperti makanan yang terlalu banyak
garam, jadi tidak bisa dinikmati.
-
Memiliki look and feel yang menyenangkan dan
usable, dalam artian dapat dinikmati dan dapat digunakan dengan mudah. Hal ini
dapat dicapai dengan memperhatikan sifat dasar suatu komponen. Misalnya, sebuah
button yang baik akan memiliki volume sehingga terlihat “clickable”, kemudian
button yang disable haruslah lebih redup dari yang sedang aktif. Contoh lainnya
adalah sebuah textbox di WPF harus tetap visible dengan memperhatikan kontras
warna textbox dengan backgroundnya.
-
Memberikan flow yang menarik pada aplikasi,
misalnya penggunaan animasi secukupnya pada control, atau pada splash screen,
dan sebagainya. Kita perlu menambahkan bumbu-bumbu secukupnya untuk membedakan
aplikasi WPF kita dengan aplikasi windows form biasa.
-
Sebuah aplikasi WPF harus dapat dinikmati “sepanjang
zaman”. Biasanya, sebuah aplikasi yang melibatkan animasi serta grafis yang “wah”
akan menarik pengguna di awal penggunaan. Pengguna akan berkata “wow,animasinya
keren”. Satu dua kali melihat animasi tersebut, pengguna akan bosan dan
akhirnya malas untuk melihat animasi tersebut. Oleh karena itu penggunaan
animasi pada sebuah aplikasi wpf perlu dibatasi. Durasi animasi sebaiknya tidak
lebih dari satu atau dua detik. Misalnya kita membangun aplikasi WPF yang
ketika user membuka window aplikasi tersebut, si Window akan berputar-putar di
layar, berubah warna, membesar, kemudian dengan efek bounce kembali ke posisi
tengah dengan disertai musik selama 30 detik. Pada awalnya ini akan menjadi
menarik bagi pengguna, tetapi semakin lama, fitur ini akan menjadi “annoying”. Gunakanlah
animasi dan grafis secukupnya dalam durasi yang tidak terlalu panjang. Satu
atau dua detik cukup.
Sebuah
desain aplikasi yang “keren” dapat menjadi tidak berguna jika tidak sesuai
dengan target penggunanya. Oleh karena itu sebelum mendesain aplikasi WPF,
perlu diperhatikan terlebih dahulu siapa yang akan menggunakan aplikasi ini. Siapa
pengguna aplikasi Anda? Bagaimana karakteristik pengguna aplikasi Anda? Berapa
umur mereka? Bagaimana lingkungan kerja mereka? Developer dapat menggunakan
persona atau mempertimbangkan penggunaan konsep Usability Engineering Lifecycle
dalam penentuan karakteristik pengguna.