The Pragmatic Programmer

Tulisan iseng kalo ada waktu.
See also: Other Geeks@INDC

July 2009 - Posts

Suka Tantangan? Belajarlah Seluncur Es

Jika anda merasa anda adalah seorang yang suka tantangan dan mempunyai kemampuan cepat belajar, maka cobalah seluncur es. Dengan mencoba seluncur es anda akan menguji kemampuan anda untuk mengambil dan menerima resiko (terjatuh tentunya). Serta kemampuan otak anda untuk mempelajari hal baru dalam waktu cepat. Serta keuletan anda untuk terus bangun dan mencoba walaupun terjatuh berkali-kali. 

Terlebih bila anda kelebihan berat badan!

Hahahahhaa!!!

Share this post: | | | |
Imej Saya Terhadap Silverlight, IE dan piranti lunak M$ lainnya

Web site geeks ini (http://geeks.netindonesia.net/blogs) menggunakan Silverlight untuk efek-efek kecil seperti gerakan awan dan kerlipan di banner. Selain itu juga ada efek cermin di foto pemilik blog. Namun, dikarenakan adanya Silverlight ini membuat web site menjadi tidak nyaman digunakan karena setiap kali diakses browser FF saya selalu hang selama beberapa menit. Sungguh menyebalkan dan mengganggu sekali. Itulah alasan utama saya tidak mau memasang kembali Silverlight di komputer saya. Toh, tanpa adanya Silverlight saya masih bisa mengakses web site ini dengan baik. Pengalaman buruk ini membuat imej saya terhadap Silverlight terbentuk menjadi: "Plugin nyusahin yang tidak ada gunanya". 

Ada yang menyarankan saya untuk menggunakan Internet Explorer. Waktu pertama kali Internet Explore 8 keluar. Saya langsung mencoba dan hasilnya mengecewakan karena setiap baru pertama kali membuka aplikasinya, saya diharuskan menunggu selama beberapa menit (seolah-olah hang) karena Internet Explorer secara otomatis langsung berusaha mengakses ke web site vendor dari leptop saya (www.hp.com) sejak saat itu, imej saya terhadap IE adalah: lambat dan tidak layak digunakan ditambah lagi imej lamanya masih terpatri kuat di ingatan saya, yaitu: tidak aman.

Dikarenakan kedua piranti lunak tersebut (Silverlight dan IE) saya menjadi bertanya-tanya, "Kenapa barang masih bermasalah kok gw udah disuruh pake? Enak aja gw dijadiin kelinci percobaan, barang belom layak udah dirilis dan nyuruh orang make."

Saya juga jadi ingat dengan telpon pintar berbasis Windows Mobile saya yang terasa sangat lambat pula padahal telpon pintar itu termasuk kelas mumpuni. Sungguh mengecewakan, "Gw kan belinya kagak murah." Kemudian lagi dengan leptop bermerk HP yang saya beli yang sudah dibundel dengan sistem operasi Windows Vista, kenapa kok lambat juga dan banyak diisikan dengan piranti lunak yang harus dibeli setelah masa percobaannya habis. Kedua hal tersebutlah yang membuat atasan saya di kantor selalu memaki-maki Windows dan akhirnya beralih ke Mac.

Dalam bidang pemrograman juga sama. Dahulu, saya adalah penggemar berat Visual Studio. Bagi saya, Visual Studio adalah pengolah kode sumber terbaik di seluruh dunia. Namun, dikarenakan di kantor saya harus menggunakan Eclipse, terpaksalah saya beralih ke Eclipse dan tidak pernah menyentuh Visual Studio lagi. Awalnya sih ada penolakan secara psikologis namun ternyata Eclipse jauh lebih ringan dan jauh lebih nyaman digunakan daripada Visual Studio. Dan imej saya terhadap Visual Studio pun menjadi sama seperti piranti lunak M$ lainnya, LAMBAT dan setiap ingat Visual Studio saya kehilangan gairah untuk menggunakannya.

Dalam dunia ceting menceting pun sama. Yahoo Messenger dan GMail Chat jauh lebih nyaman digunakan daripada Windows Live Messenger. Begitu juga dalam bidang imel-imelan dan piranti lunak untuk mengatur daftar tugas. GMail jauh lebih nyaman digunakan dibandingkan Outlook.

Microsoft Word dan Excel pun sudah tidak pernah saya sentuh lagi. Google Docs telah menggantikan keduanya dikarenakan sudah terintegrasi langsung dengan GMail, praktis, dan nyaman digunakan.

Dalam dunia pemasaran, imej atau citra merupakan hal yang sangat penting dan harus dipertahankan mati-matian. Namun, kesan yang saya lihat. M$ sekarang sangat kedodoran dan sepertinya sudah tidak perduli lagi dengan pencitraan ini. Di saat vendor-vendor lain, seperti Google dan Apple, berusaha membuat nyaman dan senang penggunanya, namun kenapa M$ kok malah 'bikin kesel' terus ya??

Sempat saya ingin beralih ke Mac namun harganya yang selangit membuat saya mengurungkan niat dan akhirnya terpaksa memilih Ubuntu (yang kemudian dipermak seperti Mac) namun dikarenakan di Ubuntu tidak ada Skype terpaksa saya beralih kembali ke Windows Vista. Jelas sekali, Windows dengan segala kekurangannya masih sangat kuat di banyaknya aplikasi yang khusus dibuat untuknya. Ini pula yang menjadi alasan saya masih menggunakan Windows.

Bila nanti sudah banyak piranti lunak tersedia untuk Android dan Android sudah bermain di pasar leptop, saya yakin Windows akan secara perlahan ditinggalkan. Imej saya terhadap Android memang belum 'seindah' imej saya terhadap Mac namun yang pasti jauh 'lebih indah' dibandingkan imej saya terhadap Windows. Ditambah Android pun open source, bisa dicompile ulang, diutak-atik, dan didominasi oleh kode sumber dalam bahasa Java. Kontras sekali dengan Linux yang didominasi kode sumber dalam bahasa C. Ditambah lagi Android muncul dengan konsep dimana aplikasi bisa berbagi layanan dengan mudah (contohnya Android datang dengan aplikasi Text-to-speech dan aplikasi ini membagi layanan TTS-nya sehingga bisa digunakan aplikasi lain dengan mudah).  Tentunya, ngoprek-ngoprek Android akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan ngoprek-ngoprek Windows. Terlebih Android adalah barang baru dan 'masih muda'. Dimana-mana, 'istri muda' jauh lebih menarik daripada 'istri tua'.

Dahulu, ketika saya masih kuliah, imej saya terhadap M$ adalah perusahaan yang menghasilkan piranti lunak yang mudah digunakan. Bahkan ada yang bilang nenek-nenek pun dengan mudah menggunakan piranti lunaknya. Namun sekarang imej saya terhadap M$ adalah perusahaan yang selalu mengeluarkan piranti lunak yang 'ngeselin', rugi kalau beli piranti lunak asli dari M$. Adakah inisiatif dari M$ untuk merubah memperbaiki diri? Sebagai penggemar setia, aku akan terus berharap, berdoa, dan menunggu. Namun, sebagai pengguna yang merupakan manusia biasa, aku masih akan terus melirik-lirik ke Mac dan juga menunggu Android sampai cukup umur untuk 'dipinang'.

Share this post: | | | |
ePaper Kompas dan TDD

ePaper Kompas sudah bikin heboh. Boleh dibilang ini aplikasi sukses besar. Nah, pertanyaannya, apakah aplikasi ini dibuat menggunakan TDD? Kalau tidak, mengapa? Kalau iya, apakah manfaat dan kesulitannya?

Share this post: | | | |
ePaper Kompas - Untuk Linux User

Karena ePaper Kompas pake XAML seharusnya bisa dirubah kembali menjadi format SVG. Nah, teorinya, kita bisa membuat software untuk retrieve XAML dari Kompas dan merubahnya menjadi SVG kemudian divew menggunakan viewer-viewer yang sudah ada seperti Adobe SVG dan semacamnya. Gw rasa ini bisa jadi solusi untuk rekan-rekan di Linux yang enggak bisa akses itu ePaper.

Gw pribadi udah enggak pernah lagi baca koran makanya gw enggak tertarik untuk cari tahu apakah teori gw ini bisa dilakukan atau tidak. Ada yang punya ide lain?

Share this post: | | | |
ePaper Kompas

Penasaran sama ePaper Kompas, pengen tahu cara kerjanya akhirnya gw iseng-iseng riset. Ternyata kesimpulan yang gw dapet adalah, PDF dirubah menjadi SVG kemudian dirubah menjadi XAML dan ditampilkan lewat Silverlight. Namun, kalau menurut ini katanya Expression Design bisa langsung membaca PDF dan merubahnya menjadi XAML.

Kalau dari PDF diconvert ke SVG seharusnya bisa dibuat menggunakan Adobe Flex nih ato mungkin bisa langsung pake Adobe SVG Viewer. Penasaran juga pengen coba convert majalah PDF ke SVG dan lihat hasilnya seperti apa, seharusnya sih teksnya bisa dibaca jadinya bisa disearch. Lanjut besok aja dah! Ato ada yang lebih tahu?

Share this post: | | | |
Ini ePaper Keren Juga

 Lagi heboh ePaper. Yang ini (http://www.tribun-timur.com/epaper/) gw kunjungin langsung muncul ePapernya, ga perlu instal apa-apa lagi. Ooo..ternyata dia pake Flash. Pantesan!!!

Share this post: | | | |