June 2005 - Posts

Open Source versus Proprietary, Free or Fee ??
26 June 05 10:59 AM | kukuhtw | 7 comment(s)

ada 2 aliran yang saling bertentangan di dunia IT. mereka adalah yang  berpendapat bahwa Software must be free melawan Software must be profitable.  akankah arah perkembangan software development didepannya akan ditentukan  oleh kedua aliran ini ? bila aliran open source berkembang semakin menggila  dan akhirnya berjaya, mungkin para raksasa software akan mengalami
kebangkrutan massal, tapi sebaliknya apabila gerakan open source mengalami  kejenuhan, kelelahan di depannya dipastikan situasinya tidak akan jauh  berbeda dari sekarang, para kustomer akan tetap dapat menikmati software  dengan charge sesuai kualitas software yang dibelinya.

I have opinion tentang software, maaf banget nih..kalau software bisa  dianalogikan dengan 's*x'. you can have it by free or you can have by rent it  or buy it !!. even you can hack it / (rape it?). in terms of s*x..you can  have it suka sama suka...sama dengan software open source...para pengembang  developer memberikan izin kepada para pemakai atau user lain untuk  menggunakan programnya bahkan dengan original codenya sehingga pihak lain  dapat ikut mengembangkan/memodikasi program itu sendiri.

Bila dilihat dari sisi pemakai/pengguna softare, tentunya solusi open source  merupakan solusi yang sangat menguntungkan. Bila dilihat dari sisi pembuat  program/developer, tentunya open source dapat memberikan kepuasan bathin  karena mereka para pengembang/developer dapat mempublikasikan dirinya dimuka  umum bahwa mereka dapat memberikan sesuatu yang berarti, dapat berkontribusi  kepada lingkungan masyarakat melalui software yang mereka buat. Para pengikut  open source yang fanatis biasanya membenci golongan kapitalis yang mengeruk
keuntungan dari bisnis software. slogan seperti Knowledge must be free  berdengung dimana-mana. Bagi orang bisnis adalah hal yang tidak masuk akal  ketika hasil jerih payah suatu team selama berbulan-bulan dan menghasilkan  produk berkualitas dibagikan begitu saja. memangnya mereka para developer  tidak perlu makan ??, darimana mereka mendapatkan gaji kalau tidak dari  kantong investor ? lalu kalau dana sudah dinvest ke software house dan  hasilnya diberikan ke masyarakat dengan nilai 0, dari mana perusahaan mendapatkan untung ??

Di era tahun-tahun belakangan ini adalah suatu hal menarik bila kita  mengikuti fenomana ini, mungkin mirip dengan era politik setelah perang dunia  ke-2 dimana dunia mendapati 2 kubu yang sama-sama besar dan mempunyai  pengikut yang seimbang yaitu blok barat/kapitalis dan blok timur/komunis.  pada era perang dingin politik, kedua kubu rajin melakukan propaganda politik  ke dunia ketiga, baik berupa propaganda politik yang halus ataupun kasar.

Miripkah situasi perang dingin antara timur dan barat identik dengan open  source dan Closed Source ? kerasa nggak sekarang2 ini ...propaganda pengikut open source dan Closed  Source sekarang2 ini rajin menyebarkan ajarannya baik melalui media  massa/mailing list/newsletter/mailing list/birokrasi ?? Bagi yang berprofesi  di-luar IT mungkin tidak merasa, siapapun pemenangnya nanti, tidaklah  berpengaruh banyak bagi kehidupannya. Tapi bagi kita2 yang bergerak di dunia  IT merasa sekali dinamika perang dingin ini. Eropa dan amerika latin terutama  Brasil kemungkinan besar sudah dimenangkan oleh pengikut open source, dan  sekarang2 ini wilayah asia pasifik sedang gencar diserbu oleh aliran Closed  Source, maklum saja perkembangan ekonomi paling pesat dibelahan dunia saat  ini dipegang oleh negara2 di asia pasifik.
I personally tidak berpihak fanatis kepada kedua kubu tersebut. Gerakan open  source dapat dimaklumi bahwa software yang berkualitas selayaknya diketahui  'jeroannya' oleh pihak lain agar yang lain dapat berpartisipasi turut serta  dalam mengembangakan software tersebut dan membuatnya menjadi lebih baik.

Para developer open source seharusnya diberikan apresiasi dan pujian tinggi  karena dengan berbaik hati mereka mau membagikan source codenya dengan free.  Sifat kedermawanan, kerendahan hati, idealisme seharusnya bagus ditiru.  Gerakan kaum investor kapitalis yang memerlukan dana / modal untuk  mengumpulkan dan membentuk team terbaik untuk menghasilkan produk berkualitas  selayaknya diberikan 'reward' yang setara dengan kualitas produk dihasilkan.  Bagaimanapun juga para developer/investor/analyst ini juga manusia, punya  hati dan punya rasa. yang hasil jerih payahnya tidak cukup dibayar dengan  ucapan 'Terima Kasih'. Mereka kan juga perlu makan.

Saya punya dugaan sendiri..pada umumnya mayoritas pendukung open source itu  terdiri dari orang2 muda dengan range umur antara belasan tahun sampai dengan  20-30an tahun. Setelah 30an keatas , setelah mereka merasakan benar bahwa  hidup itu perlu dukungan finansial, tidak dipungkiri banyak yang membelot  dari yang tadinya suka rela tidak dibayar menjadi berpikir praktis bisnis.
Berubahlah mereka menjadi tertutup/protektif terhadap source code ciptaan  mereka. Masuk diakal bila kita berbikiran bahwa mereka yang berusia muda  berumur 20an awal tidak memerlukan biaya banyak dalam membiayai hidup mereka  sehari-hari, mereka senang membuat software tanpa harus dibayar, mereka  berbagi tips dan trick, tidak merahasikan code mereka, saling belajar satu  sama lain. Tapi begitu memasuki dunia real.....mereka tahu apa yang mereka harus lakukan...dam mereka punya pilihan......what should i have got to do with my code ?? free or fee?

Share this post: | | | |
sekilas perbandingan Industri Sinema/Musik dan Software di Indonesia
26 June 05 07:38 AM | kukuhtw | 2 comment(s)

Ditengah2 suasana rawan pembajakan, industri sinema dan musik indonesia mengalami banyak perkembangan pesat dibandingan 5-10 tahun lalu. Apakah ini menandakan bahwa tidak perlu mengkhawatirkan pembajakan  karena walaupun ada pembajakan toh industri sinema dan musik tetap berjalan,  berproduksi dan menghasilkan profit. Buktinya kini banyak film2 sinema  produksi buatan Indonesia yang diputar di bioskop 21. Banyak pendatang2 baru  di bidang musik yang namanya mencuat keatas , mencatat penjualan album terlaris, popular mendadak. Kenapa mereka tidak takut produknya dibajak ?.

Intuisiku bilang, separah apapun pembajakan, katakanlah pembajakan memakan  potential loss diatas 80% tetaplah berpikir positif. Akan selalu ada orang  baik yang appreciate dengan kualitas dari produk yang dihasilkan. Pembajakan  juga dapat mengukur seberapa bagus kualitas produk yang kita miliki. Bila  tidak ada pembajakan untuk produk tertentu, maka ada 2 kemungkinan,
Kemungkinan pertama adalah Hukum sudah berjalan dan kemungkinan kedua adalah  Produk yang dihasilkan JELEK kualitasnya !. Untuk saat ini kemungkinan  kedualah yang pasti terjadi.

Bagaimana dengan industri software/gaming di Indonesia? sebagai orang yang berprofesi dibidang software IT terutama dindustri Gaming,  pastinya kita tahu nama2 beberapa company di Indonesia yang memfokuskan  bisnisnya  di bidang yang berhubungan dengan business software ataupun 
gaming. Ada beberapa nama yang sukses yang merelease produknya di lingkup  global/world-wide. Akan tetapi jumlahnya  tidak banyak dibandingkan dengan persentase jumlah pendukuk Indonesia. Kenapa jumlahnya tidak banyak ? Alasan  terbesar adalah mereka takut produknya dibajak, padahal untuk membangun mass-customized software / game software memerlukan dana yang tidak sedikit,
sudah capek2 bikin pas di release lalu dijual malah laku sedikit tapi  bajakannnya beredar luas. Apakah masuk diakal alasan seperti ini ?

Lalu bagaimana dengan mereka yang bergerak di industri sinema/musik  Indonesia, apakah pada dasarnya mereka juga memiliki kekhawatiran yang sama?  setelah membuat album rekaman/film layar lebar , mereka tidak memiliki  kekhawatiran seperti itu ?

My-Intuition told me that...mereka yang berkecimpung di dunia sinema/musik  yang bertahan terus dapat menghasilkan produk2 berkualitas tanpa khawatir  dengan pembajakan pastilah orang yang idealis yang memang memiliki jiwa seni  yang membutuhkan media penyaluran baik di sinema ataupun musik. Tanpa suatu  idealisime yang kuat mana mungkin seseorang dapat bertahan. Sudah capek2  bikin film, bikin lagu, nyari inspirasi, belajar akting, nulis script, nulis  scenario dan sebagainya, kerja panjang berbulan2..eh pas sudah  direlease..orang2 malah lebih suka beli produk bajakannya  di Glodok. Apakah  mereka putus asa lalu berpikir alternatif untuk mencari profesi lain diluar  jiwa mereka ?, berpikir wah mendingan ikutan arisan MLM aja deh, manusia 
kan perlu makan, daripada bertahan di industri ini. Sangat disayangkan  apabila  harus menyerah dengan situasi seperti ini. Something that must be  done,  berpikir kreatif harus dilakukan.
Bagi mereka yang bergerak di industri musik, mungkin punya cara untuk  mengatasi masalah finansial, misalnya mencari profit lewat konser/tur,  penjualan merchandise, mempatenkan lagu2 ciptaan dan sebagainya. Yang  bergerak dibidang sinema layar lebar, mungkin menjajaki kerja sama dengan  pihak lain untuk membiayai ongkos produksi, kerja sama dengan vendor produk  tertentu dan sebagainya. 

Pokoknya pasti ada cara, begitu juga dengan industri software Indonesia.Sebagai langkah awal, harusnya bergembira bila produknya dibajak, karena ini  menandakan bahwa pasar/kustomer sudah accept dengan kualitas produk yang  dihasilkan. perjalanan ke depan memang berat tough,hard,dan sulit tapi pasti  ada jalan, pasti ada cara untuk tetap survive dan begitu ketemu  solusinya..mudah2an we'll make it bigger tidak hanya survive tapi mampu berbicara banyak dilingkup global/worldwide.

Share this post: | | | |