The Indonesian GSM System’s Weaknesses

Perangkat genggam GSM menjadi suatu perangkat yang rawan dicuri. Pertama, hal ini disebabkan karena perangkat genggam adalah sebuah piranti komunikasi yang bernilai dan berharga. Kedua, disebabkan karena terpisahnya identitas dari perangkat genggam dan identitas dari pengguna jaringan GSM yang tersimpan dalam SIM card. Perangkat curian dapat dengan mudah digunakan kembali dengan menggunakan SIM card yang valid.

Untuk memerangi hal tersebut, setiap perangkat genggam dilengkapi dengan nomor IMEI (International Mobile Equipment Identity). IMEI adalah identitas dari sebuah perangkat genggam yang tersimpan dalam perangkat genggam tersebut dan tidak dapat dihapus kecuali dengan memusnahkan perangkat tersebut.

 

Selain IMEI, untuk memerangi masalah pencurian perangkat genggam, dalam arsitektur GSM terdapat basis data yang disebut dengan Equipment Identity Register (EIR). Dalam EIR tersimpan:

  1. White list, yaitu daftar perangkat genggam yang valid.
  2. Black list, yaitu daftar perangkat genggam yang memiliki IMEI tidak valid karena dilaporkan dicuri.
  3. Gray list, yaitu daftar perangkat genggam yang sedang dilacak.

 

Dengan terdaftarnya perangkat genggam yang tidak valid dalam EIR, maka pelacakan terhadap perangkat genggam yang hilang secara teoritis dapat dilakukan dengan melacak data-data dari SIM card yang terdapat pada perangkat genggam tersebut.

 

Akan tetapi beberapa operator jaringan GSM tidak melengkapi jaringan mereka dengan EIR karena dua alasan. Pertama harga perangkat genggam GSM yang semakin murah, sehingga pencurian relatif berkurang. Akan tetapi hal ini tidak berlaku di negara berkembang, karena harga sebuah perangkat genggam di negara berkembang seperti di Indonesia masih relatif mahal. Kedua, karena alasan investasi.

 

Tidak ada data resmi mengenai apakah operator jaringan GSM di Indonesia melengkapi sistem jaringan GSM mereka dengan EIR. Tetapi yang pasti adalah tidak ada operator jaringan GSM di Indonesia yang memberikan layanan untuk pelaporan pencurian perangkat genggam.

 

REFERENSI

 

[HEI98] Heine, Gunnar (1998). GSM Networks : Protocols, Terminology, and Implementation. Artech House London

Share this post: | | | |
Published Wednesday, April 04, 2007 10:27 AM by Narenda Wicaksono
Filed under: ,

Comments

# re: The Indonesian GSM System’s Weaknesses

Wednesday, May 02, 2007 10:06 AM by ronald
kalo gua bilang kelemahan lainnya adalah pada jaringan GPRS-nya.. proxy GPRS-nya itu loh, tiap operator gak seragam, jadi kadang2x ada operator yang mengizinkan content dengan header tertentu dan ada juga operator yang melarang content dengan header tertentu...

# re: The Indonesian GSM System’s Weaknesses

Tuesday, June 05, 2007 3:46 PM by Gprsnif
Sejak 2003, di India contohnya, para pengguna gsm disana pada kreatif ngutak-ngatik APN jaringan gsm yg mereka pake. Sehingga bisa mengakses konten situs tertentu dgn gratis. Thn 2005 menjalar keberbagai negara lainnya termasuk indonesia, satelindo dan telkomsel salah satu yg bisa di tweak.

# re: The Indonesian GSM System’s Weaknesses

Wednesday, July 04, 2007 9:12 AM by GPRSnif
Emang betul, salah satu kelemahan gsm adalah gprsnya! Menurut pengalaman gue dengan sedikit pemahaman tentang jaringan maka seseorang dapat dengan mudah masuk kedalam jaringan operator gsm yg dia pake. Karena prinsipnya selama kartu yg dia pake masih valid (aktif tdk dlm masa tenggang) maka hp yg dia pake tetap terkoneksi dlm jaringan. Bermodal informasi APN maka dia dapat terkoneksi pake DUN, lalu bypass PROXY wap, sehingga dia dapat berselancar gratis...
Powered by Community Server (Commercial Edition), by Telligent Systems