Bersama rekan-rekan Group Leader INDC lainnya (Pak Tahir, Agus, Dondy, Basir, Kunarto) saya mengisi acara workshop dengan judul: Application Development with .Net Technology: RAD in Web, Webservice, Desktop and Mobile Application. Workshop ini adalah bagian dari event Software Developers Days yang diadakan olah ASPILUKI. Visit: http://www.software-indonesia.com/
Sesuai judulnya, workshop ini merupakan introduction to .NET & hands-on lab utk coding dgn .NET. Dua-duanya, C# & VB.NET. Bikin Web Service, Web Client, Desktop client dan Mobile Client. Pesertanya banyak. Kelas jd penuh. Yanya jawabnya juga bagus. Seru. (Meski ada kendala teknis & logistik di sana-sini, itupun lebih dari sisi event organizer-nya - pelajaran deh buat EO-nya). Dari sisi Group Leader INDC, kita rasa kita cukup baik perform-nya.
Setelah workshop, saya menghadiri seminar yg dibawakan oleh Terry Goldman dari IBM Singapore. Topiknya: Using UML: How to Build Better Object Models. Setelah mengikuti seminar-nya hingga akhir, saya gak melihat ada hal baru. Isinya cuma introduction banget tentang UML. Buat org2 yg bener2 blank tentang UML. Apa perlunya modeling, sejarah UML, UML 2.0 dan semacamnya. Agak garing jadinya. :) Bukan konsumsi org yg live & breath di UML & modeling.
Tetapi, ada yang menarik. Saya sempat menanyakan dua hal ke Terry yg kurang lebih isinya:
1. Apa statement IBM-Rational tentang “Agile Methodologies“ yg gak begitu encourage pemakaian CASE Tool (saya tanyakan ini karena IBM-Rational adalah vendor CASE Tool Rational yg ngetop itu :) ). Di dunia “Agile“, kita cuma use UML as skecth. Kita gak membuat design sebagai artifacts, tetapi hanya sekedar media komunikasi utk brainstorming ide. CASE tool hanya dipakai paling2 sebatas Reverse Engineering. Jd, gak justified utk beli Rational yg muahal itu.Whiteboards & boardmarker most of the times cukup utk modeling!
Jawaban Terry menarik! Dia gak ngotot agar kita pakai CASE tool (Rational). Dia setuju dgn saya bahwa kita pakai UML seperlunya saja. Yg penting, “to some degree” kita melakukan modeling. Jd, CASE tool bukan hal yg paling penting. Apa yg menarik dari statement ini? DIA GAK NGOTOT JUALAN! Jawabannya fair & make sense. Dia benar2 rekomendasi solusi (utk tidak selalu pakai CASE tool, ada case2 dimana CASE tool gak justified). JAWABAN SEORANG CONSULTANT, BUKAN SALESMAN KACANGAN! :) Salut!
2. Saya juga bertanya tentang inisiatif di luar UML. Yaitu DSL (Domain Specific Language-nya) Microsoft. Apa statement IBM-Rational tentang ini? Dia bilang, gak masalah kalau ada inisiatif2 di luar UML. Tapi gak ada salahnya juga kita mengikuti & ikut me-'refine' open standard seperti UML. Dia juga mention kalau mengikuti open standard & tidak terikat pada apa kata vendor kita adalah lebih wise. Mengigat vendor bisa 'fall', kalau open standard adalah milik semua orang. Wise advice I think.
Tapi, saya jadi bertanya-tanya juga dalam hati, kalau misalnya si vendor punya 'kekuatan' utk bisa mengarahkan industri/market utk pakai approach dia, bukankah hal2 propriatery vendor tadi juga bisa mjd selevel dgn 'industri standar'. :) Lalu, apakah UML bukannya sgt 'berbau' Rational? :) Anyway...
Saya sendiri sgt curious dgn DSL & Software Factories dari Microsoft ini. Apakah akan memudahkan saya membuat the 'real thing', the SOFTWARE ITSELF. Apakah DSL juga akan take-off & di embrace oleh industri/market? Time will tell!
Sebelum pulang saya sempatkan lagi ngobrol sama dia. Diskusi semakin menarik. Cool, Terry!