Google Wave tidak bersaing dengan Facebook atau Twitter, tapi Exchange
Beberapa hari yang lalu aku mendapat invitasi untuk mencoba Google Wave. Entah karena aku mengekspresikan interest aku ke google secara langsung atau karena dapat rekomendasi dari Akhmad Fatonih Navinot.
Aku masih meraba-raba apa yang bisa dilakukan oleh Google Wave dan akan menyimpan kesempatan untuk nge-review teknologi ini untuk para pakar yang lain.
Navinot hari ini (3/10/2009) membahas soal Google Wave; Google Wave crashes on beach of overhype. Posting tersebut ditulis dengan nada yang sedikit kecewa dan berintonasi koq cuma begini. Harus aku akui, aku pun sedikit merasa seperti itu. Para kolega dan istriku bahkan cuma bilang ‘cuma gitu aja?’.

Rupanya tidak sedikit orang yang membandingkan Google Wave dengan Facebook, Twitter atau Friendfeed. Robert Scoble memberikan wanti-wanti bagaimana bisingnya Google Wave ketika dibandingkan dengan friendfeed atau Twitter. Aku setuju, tapi ingin melihat produk ini dalam sudut pandang lain, terlepas dari fitur real time-nya.
Dulu aku berargumen bahwa Twitter bukan sepantasnya menjadi media komunikasi yang akhirnya membuat aku menjadi bahan celaan di bbrp blog dan microblog (akhirnya Twitter memang menjadi media komunikasi jg sih but that wasn’t the point). Nah, aku menganggap Google wave kebalikannya. Google Wave ini MEDIA KOMUNIKASI.
Walaupun punya unsur sosial, kita harus mengingat, Google Wave harus dilihat dari sudut pandang infrastruktur. Google Wave ingin bersaing dengan pop, smtp dan microsoft exchange servers / service, bukan facebook atau twitter.
Bayangkan situasi ini... aku join a few mailing list. Aku berdiskusi. Setiap kali aku nge-post konten, konten itu harus di replikasi dan dikirimkan ke semua anggota mailing list. Redundan? Bukankah seharusnya semua melihat 1 sumber yang sama? Tidak perlu replikasi?
Coba lihat fitur reply di email. Untuk memberikan konteks dan tahu thread pembicaraan, kita mengandalkan inline/attachment email sebelumnya. Gmail dan Xobni jg memperkenalkan threading dengan metadata yang ada, tapi masih jauh dari akurat.
Bayangkan lagi situasi bagaimana aku mengkomen di blog Navinot. Aku menulis panjang lebar dan klik 'berlangganan komentar baru via email' dengan harapan bisa mengikuti diskusinya terus.
What? berlangganan via e-mail? Mo komen, cek komen, forgot password, join, notification, notification direct message(message pangkat 2 donk?) kita diharuskan untuk cek imel.
Email sudah menjadi pipa dan lem interaksi di internet yang kita terima karena kita sudah terbiasa.
Mungkin kita harus melihat Google Wave sebagai email infrastructure with more powerful API ....atau bahkan, the world's messaging bus! (at least that is what it’s trying to do). Oleh karena itu lebih tepat untuk memposisikan Google Wave bersama Exchange Server atau bahkan Facebook Connect.
Killer application untuk Google Wave (begitu pula Facebook Connect) adalah aplikasi yang menyambungkan knowledge silos yang saat ini terpisah.
ps. Aku menulis post ini berdasarkan komen yang aku tinggalkan di Navinot (Google Wave crashes on beach of overhype). Andai aku bisa melihat semua reply yang ditujukan ke komen aku itu di sini, dan jg sebaliknya, komen yang masuk ke post ini langsung otomatis masuk ke Navinot.