From 0G to 3G

Market - Pasar - Keinginan Customer - Hal ini yang antara lain menjadi salah satu alasan suatu teknologi terus dikembangkan pada batas yang acap tak terpikirkan saat ini, seperti halnya pada bidang telekomunikasi.

Awal tahun  90, saya nggak kepikiran bahwa komputer di seluruh dunia bisa saling terhubung, saling kirim surat, dokumen, gambar, video, bahkan kepada orang yang tidak kita kenal sekalipun. 

Paling dulu tahu ada yang namanya Sistem Informasi Electronik (SIE) punya Telkom yang lalu dioperasikan oleh Lintasarta. Itu juga sebatas pengiriman laporan yang text-based. Ingat chatting pakai Clarissa ?Ah jangan lupakan telex. Sempet main telex ? Prinsipnya samalah dengan komputer :), kita ketik surat, disimpan di media penyimpanan berupa pita kuning panjang yang berisi kode-kode huruf yang kita ketik. Pita kuning ini berguna kalau kita mau kirim surat yang sama ke orang lain, biar gak cape ngetik lagi.(Semaphore dan Morse dilewatin aja,ya hehehe) Kemudian, ada juga yang namanya Sistem Komunikasi Data Paket(SKDP) punya Telkom juga, bisa pake dial-up atau leased-line. Dari sisi user, dekat-dekat lah sistem kerjanya dengan internet. Sesama user SKDP bisa saling terhubung, kalau mau. Lama-lama kenal internet. Itu juga internet yang belum pakai browsing IE atau Firefox kayak sekarang. Ingat browsing pakai Gopher ? Googling pakai Archie ? Semuanya serba text, gak ada grafiknya. Sekarang ? Apa yang kita pikir sekarang belum diakomodasi sama internet ? Tadinya kita gak kepikiran kalau kita butuh. Tapi setelah ada, gak kepikiran how can this life go on without it.

Begitu juga dengan telepon. Betapa senangnya dulu ketika di rumah bisa dilayani oleh Telkom, mengingat untuk pasang telepon kita musti antri  bertahun-tahun. Musti tahulah kita kerepotan Telkom untuk menarik kabel tembaga, gali lubang, tutup lubang, pasang tiang telepon, tebang pohon yang jadi penghalang dari Sentral Telkom Otomat terdekat ke rumah-rumah. Jadi ya sabar aja ya kalau butuh waktu bertahun-tahun dan biaya yang besar. Sampai kepada wireless handsetpun saya terkagum-kagum. Kok bisa  telepon tapi gak ada sambungan kabel, ... Padahal kalau mau sedikit mikir, toh dari dulu juga sudah dengerin radio, nonton tv yang secara fisik gak nyambung ke mana-mana. Handy Talky 2 meteran yang sekarang masih dipakai Kanjeng Mas Roy Suryo juga kan pakai media udara. 

Dan dengan media udara kemudian komunikasi berlanjut menggunakan handphone. HP pertama yang saya lihat sebesar batu bata. Tentu saja bukan punya saya. Dengar-dengar harganya 10 juta !!... Ah masa sih .. pantesan yang punya cuma orang kaya. Itu adalah handphone yang menggunakan teknologi Advanced Mobie Phone Service atau AMPS yang diperkenalkan pada pertengahan 1980-an. AMPS yang banyak dipakai di Amerika Utara adalah salah satu sistem analog selular. Sistem analog yang lain adalah TACS(Total Access Communication System) yang banyak dipakai di Inggris, NMT(Nordic Mobile Telephone) digunakan di negara Nordic seperti Swedia, Norwegia, Finland dan Denmark, MCS (Japanese Mobile Cellular System) digunakan di Jepang dan CNET digunakan di Jerman, Portugal dan Afrika Selatan. Semua sistem analog ini yang kemudian disebut sebagai Generasi Pertama (1G).

Seiring dengan mulai popularnya komunikasi bergerak membuat network menjadi overload, mengakibatkan banyaknya sinyal sibuk dan gagalnya panggilan. Kemudian datanglah solusi 2G sistem selular digital pada awal 1990,yang termasuk di dalamnya adalah GSM, IS-136 TDMA dan CDMA.

Di masa-masa keemasan GSM dan berlanjut sampai sekarang, siapa yang tidak punya handphone ?

Ketika kita ngobrol dengan teman di seberang pulau lewat handphone yang ada kameranya (apa sih hubungannya), proses yang terjadi begitu mudah. Tinggal tekan tombol lalu terdengar Jagalah Hati- Aa Gym sebagai ring back tone, nggak lama teman kita menerima telpon, lalu .. gosip .. gosip .. gosip. Sekarang semakin banyak ibu jari berolahraga ketik-ketik di tombol buat sms-an. Hey... sms siapa ini, Bang ? Di dunia 2G, pengguna hp punya pengalaman baru. Bisa ganti-ganti casing warna-warni ..., saling coba kirim lagu lewat infrared, penambahan camera, serta aksesori lain. Fun ya ..:) Oya, ada lagi yang membanggakan dual frequency yang ada di hpnya, for future need -sih katanya.

Tapi ada dorongan lain selain hal remeh-temeh ini. Beberapa sistem yang ada dalam Generasi 2 ini ternyata tidak kompatibel satu sama lain. Artinya, ada keterbatasan penggunaannya, seperti misalnya HP kita yang menggunakan sistem GSM  gak bisa berfungsi sama sekali ketika kita bawa ke Jepang yang menggunakan sistem PDC(Japanese Personal Digital Cellular) meskipun keduanya sama-sama menggunakan teknologi TDMA dan sama-sama bekerja pada frekuensi 900 MHz.

Lalu terjadilah proses pengumpulan ide. Apakah nanti sekedar bisa kompatibel ?   Ke arah mana teknologi ini bergerak atau digerakkan agar servis-servis lain yang belum ada bisa disuguhkan kepada customer ? Sesungguhnyapun, atau sejujurnya, bukan sekedar melayani kebutuhan pasar, tapi sejauh mana segala layanan canggih yang dihadirkan dapat memberikan pendapatan kepada penyelenggara jasa teknologi tersebut. Hal ini sah saja. No free lunch, kan ?

Sebelum kemudian muncul 3G, ada teknologi antara, 2.5G yang membuat handphone bukan sekedar untuk bicara atau kirim sms, tapi bisa juga untuk kebutuhan komunikasi data. Sistem tersebut termasuk di dalamnya adalah GPRS, EDGE dan CDMA2000 1XRTT. Teorinya, sistem GPRS memiliki kecepatan transmisi data sampai dengan 172 kbps.

International Telecommunication Union (ITU) kemudian membuat project yang disebut International Mobile Telecommunications-2000 (IMT-2000) untuk membuat sebuah standar tunggal komunikasi wireless Generasi ke-3.  IMT-2000 menetapkan persyaratan seperti data transmisi kecepatan tinggi, layanan berbasis IP, global roaming serta komunikasi multimedia. Dari semua proposal yang masuk, ada 2 sistem yang memenuhi persyaratan yaitu Wideband Code Division Multile Access (WCDMA)  dan CDMA2000.

Sekarang, apa yang akan dilakukan dengan HP di tangan yang memiliki kecepatan bisa sampai 2 Mbps dan terhubung ke jaringan internet ? Gimana kalau sudah capek-capek bikin ternyata sambutan masyarakat adem ayem aja ?  Ahh.. gue gak butuh-butuh amat, lagian berapa tarifnyapun belum jelas. Ini aja untuk telepon masih pakai voucher. Hehe... kalo gitu, kesian deh. Kesian yang bikin, kesian juga customernya.

Kalau sekedar untuk bicara dan sms toh kita sudah nyaman menggunakan 2G. Sepertinya customer perlu diingatkan, 10 tahun yang lalu belum bisa sms-an kan ? tidak merasa sms itu penting kan ? karena memang belum ada. Setelah ada, begitu banyak yang tidak bisa lepas dari sms, karena memang dirasa ada manfaatnya, apalagi lewat sms informasi  bisa disampaikan dengan biaya yang rendah. Jadi, untuk 3G-pun perlu adanya layanan-layanan yang bermanfaat dan berbiaya rendah.

Layanan entertain dan internet berkecepatan tinggi memacu semangat orang untuk mencari pengalaman di dunia 3G. Tambahan layanan lain seperti aplikasi perbankan, home watching, informasi lalu lintas serta layanan lain yang silakan oleh vendor dan provider dipikirkan lalu disuguhkan kepada para customer, juga harus disajikan dalam bentuk yang menarik. Vendor dan provider juga harus mempersiapkan sistem billing yang sangat baik, cermat dan tidak terkesan mengambil untung yang besar.

Lalu perlu adanya proses edukasi yang terus-menerus kepada para customer dan calon customer tentang manfaat apa yang dapat kita peroleh dari teknologi canggih ini. Dalam hal ini orang-orang advertising pasti lebih tahu bagaimana mengemas informasi yang edukatif dan menarik.

Pada saat ini mungkin beberapa provider masih memfokuskan sasaran pada segmen pasar tertentu. Tentunya dalam hal ini karena ada hitung-hitungan bisnisnya juga atau juga karena network yang belum stabil.  Tapi customer dari semua golongan ekonomi yang ingin mencicipi teknologi ini hendaknya juga tidak dibuat menunggu terlalu lama, karena sekarang kita juga sedang berkejar-kejaran dengan teknologi di atas 3G ! Huh...ngos ngosan yahhh...

Ternyata teknologi Beyond 3G atau 4G visinya sudah ada sejak 1997-1998 dan disiapkan untuk tahun 2010 !!!

Fuihhh..... kalau mau ikutan 4G, sebelumnya ada juga yang namanya HSPA atau High Speed Packet Access. Apa *** itu ??

Sebelumnya ...

Share this post: | | | |

Comments

# Ridi said:

Masyarakat awam cukup berpikir sederhana pada saat teknologi yang notabene mature tetapi baru diterapkan di Indonesia ini dengan sebuah kata "HARGA" bagaimana tarif 3G, berapa cost yang dikeluarkan untuk ganti HP 3G, apa worthed untuk semuanya, berapa orang sih yang punya supaya saya bisa pakai fasilitasnya. Masalah kecepatan dan performa mungkin nomor kesekian toh balik lagi PDA Phone yang masih 2,5G kita juga bisa terkoneksi dengan internet korporat dengan WIFI, paling satu dua kali kepepet untuk buka email via PDA (itupun gara gara Direct Push Microsoft..he3x :b) Kalau ngeliat konteks blog Geeks ini justru yang dipikirkan gimana ya develop add on program yang bisa bikin 3G truly bermanfaat..gunakan NET CF gunakan Smart Client. Fuih seem cool nih cause develop di atas 3G phone, cause batasannya makin tipis antara mobile device dengan the real pc dalam masalah koneksi Thank to 3G anyway

Saturday, December 9, 2006 10:42 PM