Sehabis menimbang dan memilih awalan untuk memulai, langkah selanjutnya adalah menyiapkan berbagai hal teknis dan non teknis agar deliverable solusinya tidak menemui banyak kendala.
Setelah melakukan riset intensif, melakukan serangkaian percobaan seputar workflow, serta mengamati pasar yang ada, akhirnya sebuah keputusan penting diambil. Menggunakan produk workflow yang berjalan diatas SharePoint.
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan mengapa memilih produk dibandingkan membuat workflow dengan menggunakan Visual Studio. Salah satunya adalah waktu development yang diharapkan menjadi lebih singkat, dan diharapkan ketika nantinya telah di-hand over ke customer, tim IT-nya tidak mengalami kesulitan untuk melakukan maintenance karena kemudahan produk tadi.
Di pasaran sendiri ada banyak produk workflow yang tersedia. Salah duanya adalah K2 BlackPearl/BlackPoint yang sering dibahas oleh Agusto dalam blog-nya, dan Nintex Workflow yang direferensikan oleh beberapa orang teman saya, pun beberapa blog mengenai SharePoint. Rasanya nggak sopan dan gak asyik kalo saya ikut-ikutan menggunakan K2, nanti dianggap mendompleng ketenaran dan kemasyuran yang sudah diraih oleh Agusto. Jauh lebih oke jika saya menggunakan produk lain, dalam hal ini Nintex Workflow (NW).
Ternyata, produk yang satu ini oke juga. Proses instalasi berjalan dengan cepat dan lancar di mesin MOSS 2007. IDE-nya tertanam di SharePoint sehingga tidak membutuhkan instalasi di sisi client, cukup menggunakan browser yang ada dan connect ke SharePoint. Proses desain workflow-nya sendiri sangat mudah dan nyaris tanpa coding dengan banyaknya toolbox item yang dapat meng-cover berbagai skenario workflow.
Selain itu juga ada web part yang dapat digunakan untuk melihat Workflow yang di-initiate oleh user yang login, dan web part yang menampilkan task workflow yang harus dikerjakan oleh user yang sedang login.
Tambahan lagi kita dapat melihat visualisasi detail sebuah workflow berikut statistik durasi workflow-nya.
