Bagaimana Blueprint Perkembangan dan Pemanfaatan IT di Indonesia?

 

Mengikuti perkembangan berita yang beredar di media tentang langkah pemerintah dengan penandatanganan MoU dengan Microsoft belakangan ini dan diskusi di sekitarnya, saya jadi teringat kenangan masa lalu sewaktu masih kuliah, bersama beberapa rekan yang lagi semangat2nya meng-compile linux setiap hari, sekitar '95-96. Waktu itu windows belum ada apa2nya hehe (sorry winsock masih buggy, win32 masih bayi). Pernah terpikirkan bagaimana menyambungkan semua kantor pemerintah dari Sabang sampai Merauke secara internal, minimal dengan LAN dan on-demand dialup connection pada masing2 gateway. Minimal, supaya setiap orang bisa get connected. Ada beberapa teknologi baru yang saat itu memungkinkan untuk langsung diterapkan, misalnya NAT, pakai reserved local subnet supaya akses ipnya tidak tembus ke luar, X-windows dan NFS bootable kernel supaya tidak perlu harddisk dan pcnya bisa murah meriah, cuma perlu maintain satu boot image untuk satu kantor, dan seterusnya, semuanya tentu saja dengan menggunakan opensource, sesuatu yang sangat menarik untuk diexplore saat itu.

Dalam sekian tahun terakhir, ada telah banyak usaha yang telah dilakukan oleh rekan2 yang *** membedah dan merakit kembali distro2 yang ada untuk mempermudah implementasi dan adopsi opensource dengan lahirnya distro2 yang sangat Indonesia. Listnya bisa kita lihat di sini: http://wiryana.pandu.org/Distro-Indo/ 

Tapi kenapa adopsinya sangat minim dan pengembangan distronya tidak berkesinambungan? Tidak ada dana? Tidak ada peminat? Tidak ada keuntungan? Tidak ada sdm? Atau masih terlalu susah untuk dipakai? Ujungnya, apakah tidak ada riset tentang kendala sebenarnya dari tingkat keberhasilan atau kegagalan setiap usaha tersebut? Atau tujuan distro tersebut memang hanya sebatas riset dan proof of concept?

Belajar dari situasi dan pertanyaan2 tersebut, ternyata semua ide2 teknis hanyalah tetap sebagai ide, sementara tantangan sebenarnya sama sekali bukanlah sesuatu yang teknis, tetapi lebih pada manusia dan politiknya, dan setelah sekian tahun berlalu, sepertinya tidak ada perubahan sama sekali, kecuali bahwa kita semakin demokratis. Bila seorang mengeluarkan ide, seribu orang akan menyanggah ide tersebut, apalagi kalau tidak ada keuntungan buat mereka. Jadinya kita sibuk dengan sanggah menyanggah, sementara negara lain sudah semakin maju dengan terukur, dalam baris angka, mereka bisa melihat mereka berada di posisi angka berapa dan pada akhir tahun mereka akan mencapai angka berapa. Ketika dibutuhkan, mereka juga bisa menyesuaikan langkah, apa loncat 1 atau perlu loncat 3. Kita?.... masih di angka -1, karena untuk mau maju ke titik 0 pun tidak jelas posisinya di mana, kenapa? Karena kita terlalu sibuk dengan debat belaka.

Rencana tahun lalu IGOS, ternyata tahun ini jadi LEGOS, lalu tahun depannya lagi jadi GOGOS dan entah apa lagi, tapi tidak pernah ada yang jadi, semuanya setengah matang lalu dibuang karena keburu basi. Mungkin kita bisa mengurangi waktu berdebat dan meminjam kursi berpikirnya "Blues Clues", kita juga perlu meminjam petanya "Dora the Explorer". Memikirkan apa yang bisa dilakukan dan apa yang harus dihindari untuk mencapai situasi yang lebih baik dibidang perkembangan dan pemanfaatan IT, 10 tahun yad.

Bagi yang belum kenal "Blues clues" dan "Dora" mungkin bisa bertanya kepada anak atau cucunya yang masih TK :D

Ada ide?

Share this post: | | | |
Published Monday, November 20, 2006 11:34 AM by tahir

Comments

# re: Bagaimana Blueprint Perkembangan dan Pemanfaatan IT di Indonesia?

Monday, November 20, 2006 7:37 PM by IMW
Disebut tidak berkesinambungan adalah kurang tepat. Karena sifat Open Source, suatu perkembangan tidak perlu dikuasai pengembang awalnya. Sehingga kesinambungan dalam pengembangan Open Source lebih bersifat apakah idea tersebut tetap bisa berjalan. Sampai saat ini distro tersebut tetap berkembang, dengan memanfaatkan apa yg sudah dikembangkan oleh pendahulunya. Misal TrustixMerdeka -> WInBI -> Komura, dsb. Tetap dikembangkan dan diteruskan oleh pihak lain. Mengapa kurang terdengar, karena tidak ada budget markting, dan dana komisi. Itu saja koq simple. WinBI hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk membuat user interface berbahasa Indonesia (bandingkan dengan Windows XP yang membutuhkan 1 tahun) Sebetulnya banyak distro yang sudah dikembangkan teman-teman dan digunakan di corporate (karena untuk proses migrasi), sayangnya perusahaan tersebut tidak bersedia namanya disebut.

# re: Bagaimana Blueprint Perkembangan dan Pemanfaatan IT di Indonesia?

Monday, November 20, 2006 9:56 PM by tahir

Mungkin pengaturan penamaan tersebut adalah salah satu kekurangan yang perlu diperbaiki juga, setidaknya kalau ada tim yang serius mengawal distronya. Untuk mengadopsi sebuah distro, kita harus yakin bahwa distro tersebut akan selalu uptodate. Kalau distronya berganti nama tanpa kendali, bagaimana kita bisa mengadopsinya dan mengharapkan bahwa distro tersebut bisa diandalkan untuk seterusnya. Terutama menyangkut update dari (security)bugs yang ketahuan belakangan. Kecuali kalau memang diharapkan bahwa pengguna distro harus mengupdate sendiri2 karena tidak ada update server, namun ini akan menjadi kelemahan yang jelas, dan jadi alasan yang valid untuk tidak mengadopsi sebuah distro. Tanpa adanya manfaat yang jelas dari sebuah adopsi distro yang khusus dibuat untuk kegiatan pemerintahan dan tanpa adanya program yang jelas dari pemerintah serta komitmen dari instansi2nya, sangatlah sulit untuk berharap banyak dari hasil kerja keras rekan2 yang terlibat dalam pengembangan distro2 tersebut. Akhirnya, hanya yang telibat langsung yang akan mendapat banyak sekali pengetahuan dan pengalaman namun hasilnya kurang dimanfaatkan seperti yang diharapkan sejak awal.

Satu lagi kekurangan dan jadi penghambat dalam adopsi adalah tidak adanya(CMIIW) sebuah organisasi bisnis yang cukup dikenal yang bisa dijadikan penanggung jawab dari sebuah distro lokal. Yang ada hanyalah perwakilan dari perusahaan2 asing seperti Novell, IBM, sun, redhat dsb. yang punya distro masing2 dan tidak terlibat dalam pengembangan distro2 lokal.

# re: Bagaimana Blueprint Perkembangan dan Pemanfaatan IT di Indonesia?

Thursday, November 23, 2006 7:56 PM by fade
Kesinambungan ini, IMHO bisnis semata. Secara teknis saya yakin tidak ada yang kurang. Tapi development terus menerus butuh dana yang terus menerus. Dana itu adalah hasil dari marketing yang terus menerus. Jangankan untuk bersaing dengan MS, untuk kompetisi antar distro sendiri sudah cukup 'jenuh' mengingat kue yang masih sedikit. Sehingga alih-alih bisa menerapkan strategi marketing yang baik, malah bergelut dengan overhead. Jadinya distro-distro tersebut bukanlah produk dari entitas bisnis, tapi perorangan, komunitas atau pemerintah.

# re: Bagaimana Blueprint Perkembangan dan Pemanfaatan IT di Indonesia?

Friday, November 24, 2006 9:18 PM by tahir

Benar, itulah esensi dari apa yang bisa kita amati dan mungkin bisa kita cari2 apa penyebabnya. Kenapa hampir tidak ada orang atau organisasi bisnis di Indonesia yang percaya bahwa mereka bisa mendapatkan keuntungan komersial dengan mendukung implementasi opensource sepenuhnya. Mendukung di sini berarti menyiapkan sumberdaya dan dana untuk meracik, mengembangkan, melakukan aftersales supports, konsultasi, marketing dan pengembangan berkesinambungan untuk sebuah distro yang telah disesuaikan dengan kebutuhan instansi pemerintah, UKM, sekolah2 dan masyarakat umum. Belum saatnya kita berharap bahwa enduser sudah memiliki kemampuan, keahlian dan sumberdaya untuk mengelola sendiri livecycle dari software2 opensource yang mereka pakai.  

Apakah karena apresiasi terhadap produk opensource demikian minimnya sehingga kita tidak bisa berharap untuk mendapatkan keuntungan komersial sama sekali?. Mungkin disini dukungan dan komitmen pemerintah sangat diperlukan untuk mendorong lahirnya organisasi2 bisnis yang dimaksud. Tapi pada jangka panjang, organisasi2 bisnis tsb. tidak boleh terlalu manja dan hanya menggantungkan diri pada kemurahan hati pemerintah.

Saya kira pada porsi tertentu sudah banyak yang berusaha mencobanya, setidaknya pada level aplikasi, seperti yang dilakukan oleh beberapa anak muda dengan latar belakang IT yang sangat memadai, dan tergabung di http://www.suteki-tech.com dan juga puluhan  lainnya. Dengan semangat memanfaatkan keahlian IT mereka untuk membuat software yang bermanfaat, dan tetap berusaha untuk bisa melakukan hal tsb secara berkesinambungan. Caranya bagaimana? Idealisme saja tentu tidak cukup tapi perlu usaha yang mendatangkan keuntungan supaya software atau produk yang mereka buat bisa terus memberi manfaat, termasuk manfaat komersial untuk mereka yang membuatnya. Lain halnya kalau pembuatnya adalah developer2 yang membuat software hanya sekedar kegiatan sampingan untuk mengisi waktu luangnya, kalau sudah bosan atau tidak ada waktu lagi, bisa ditinggal begitu saja.

Tanpa manfaat komersial, maka produk2 yang dihasilkan bisa jadi akan sia2 atau  lambat laun akan diterlantarkan. Lihatlah pada distro2 yang sudah tidak diteruskan lagi. Kalau sudah begitu sayang kan? :)  

Secara lebih luas, hal ini juga berlaku bukan hanya pada software2 opensource, tetap juga untuk software2 tidak opensource.

# re: Bagaimana Blueprint Perkembangan dan Pemanfaatan IT di Indonesia?

Monday, November 27, 2006 12:32 PM by fade
Mungkin problem ayam ma telor. Entitas bisnis mengganggap bahwa perangkat lunak bebas, tidak ada model bisnisnya dan belum ada permintaan. Pelanggan sendiri tidak ingin menggunakan perangkat lunak bebas, karena tidak ada entitas bisnis yang mendukungnya. Perlu sebuah entitas, entah entitas bisnis, komunitas ataupun pemerintah untuk memecahkan es ini. Saya sendiri sudah mencoba memecahkan es ini, tapi tampaknya energi kurang besar untuk sanggup memecahkannya. Mungkin baru ketak-ketok sana-sini :-)

# re: Bagaimana Blueprint Perkembangan dan Pemanfaatan IT di Indonesia?

Monday, November 27, 2006 7:13 PM by tahir
Sepertinya ada beberapa faktor yang mungkin kurang diperhatikan selama ini, sehingga penanganannya pun kurang menyeluruh untuk mencapai target yaitu, bagaimana menguntungkan pengembang software, menguntungkan pengguna software, menguntungkan pemerintah dan memajukan industri software.. Berikut beberapa di antaranya: 1. Sangat sering kita cuma melihat dari sisi pengembang dengan angan2 bahwa dengan GPL mereka telah membagi ilmu demi kemajuan bangsa, sepertinya ide ini akan kurang menarik bagi pemilik modal (industrinya). Ini mungkin hanya cocok untuk hasil2 dari pengembangan (maha)siswa2 di lingkungan sekolah2 IT. 2. Sering *** kita hanya melihat dari segi penjualnya, dengan menganggap bahwa tanpa OS berbayar, aplikasi opensource akan jauh lebih kompetitif. Di sini kita hanya memperhatikan sisi penjual software (dengan poin ini seharusnya aplikasinya jadi lebih mudah dijual). Kita kurang memperhatikan sisi penggunanya. Sementara sangat umum, pilihan pada software yang dibeli tergantung masukan dari penggunanya. Software apa yang sudah dikenal mudah dan paling tidak berisiko untuk apa software tersebut akan digunakan. Secara umum, kompetitif dari segi harga pun masih bisa dipertanyakan, ketika misalnya pengguna masih harus mengikuti training dan makan waktu untuk bisa melewati learning curve yang baru, belum lagi tingkat risiko tambahan yang harus ditanggung ketika memilih software yang belum dikenal. Kemudian point 'kompetitif' dengan OS yang gratis, ini kadang juga jadi boomerang yang membuat pengembang software akan berfikir sebelum maju, apalagi kalau teringat anekdot seperti ini: "Kalau untuk beli relnya aja tidak ada duit, gerbong yang saya buat ini nanti akan dibayar pakai apa ya?" 3. Kalau biaya pengembangan hanya diharapkan dari 'murah hati' pihak lain termasuk pemerintah, yayasan sosial dan apalagi komunitas, dan bukan sebagai 'imbalan yang wajar' dari sebuah kerja keras, maka saya yakin banyak orang yang berpendapat bahwa bisnis di bidang opensource sama sekali tidak menarik. Intinya kita sebaiknya melihat dari segala sisi dari komponen ekosistim yang terlibat, terutama dari sisi pengguna. Bagaimana kita meyakinkan bahwa kebutuhan mereka bisa terpenuhi dengan menggunakan software opensource, dan dengan itu membuat mereka menghargai pengembangnya. Sering terjadi bahwa barang 'gratis' kurang dihargai, dan terlalu sering dianggap bahwa opensource itu gratis.
Powered by Community Server (Commercial Edition), by Telligent Systems