Teknologi Apa yang Baru pada Sistem TI Pemilu 2009

Sama dengan kegiatan Pemilu 2004, pada Pemilu 2009 kali ini juga direncanakan adanya penghitungan suara secara elektronik di samping penghitungan suara secara manual. Bagaimana penghitungan suara secara elektronik ini akan dilakukan? Dari sisi software dan hardware, teknologi apa saja yang akan digunakan? Apa yang bisa diharapkan dari penghitungan suara secara elektronik? Sebagai geeks, peran apa yang bisa diambil dalam mensukseskan Pemilu 2009?

 

Dari hasil googling ke sana ke mari, berikut beberapa cuplikan berita ataupun jejak yang bisa kita temukan sekitar penerapan TI untuk penghitungan suara secara elektronik pada Pemilu 2009: (yang dalam kurung adalah komentar saya)

- 2 Maret 2009: 'Quick Count' Hanya untuk DPR dan DPD: "KPPS (kelompok penyelenggara pemungutan suara) wajib mengirimkan formulir rekapitulasi (C1-IT) DPR langsung ke KPU kabupaten/kota. Rekapitulasi itu nanti akan discanning di KPU kabupaten/kota dan dikirimkan langsung ke KPU sehingga hasilnya sudah langsung dapat dilihat di KPU," kata Andi di suatu forum diskusi di Jakarta, akhir pekan lalu. (ternyata cuma perolehan suara untuk DPR yang tersedia untuk quickcount)

- 2 Maret 2009: Tabulasi Nasional Pemilu Keliru Teknologi: “KPU berarti hanya melakukan tabulasi nasional elektronik di 77 dari 2.177 daerah pemilihan yang ada,” ...“Kami sebagai tim ahli merekomendasikan optical marking reader (OMR) kepada KPU. Sistem itu sudah terbukti digunakan setiap kali ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). KPU malah memilih intelligence character recognition (ICR) yang belum terbukti kemampuannya dan membutuhkan banyak waktu untuk validasi karena hasil bacanya kerap salah,” kata Nuryanto. (teknologi yang diterapkan bukan yang disarankan tim TI)

- 3 Maret 2009: Sistem Informasi KPU Mengkhawatirkan: "Namun, kata Bambang, rekomendasi mereka diabaikan oleh KPU. "Usulan dari kami, sama sekali tidak digubris," ujar Bambang. ... "Belum lagi, KPU juga masih harus melakukan distribusi alat scanner dan serta melakukan instalasi teknologi Intelligent Character Recognition, ke seluruh kabupaten di seantero daerah." (Tim TI sendiri khawatir pada perangkat TI yang akan digunakan)

- 3 Maret 2009: Cegah Kecurangan, KPU Siapkan Formulir Model C1-IT: "Menurut dia kegunaan model C1-IT ini memiliki dua fungsi, pertama sebagai bahan parlementary treshold yakni 2,5 persen perolehan kursi di DPR. Kedua sebagai kontrol data pembanding di KPU dengan data manual, yang tujuannya untuk meminimalisasi kecurangan yang akan terjadi. "Data C1-IT ini akan dikirim oleh KPU kota/kabupaten ke KPU pusat, setelah di-scanner sehingga bisa langsung masuk entry data agar cepat dapat diakses oleh semua kalangan," tegasnya.(digunakan scanner untuk mempercepat entry data)

- 5 Maret 2009: KPU Belum Tentukan Pemenang Tender Teknologi Informasi: "Oleh karenanya, setiap formulir rekapitulasi hasil pemungutan suara dari TPS, nantinya akan dikirim ke Komisi Kabupaten/Kota. Dari Kabupaten/Kota, lalu formulir tersebut akan discan, sehingga data suara bisa langsung terlihat di (KPU) pusat," kata Abdul. (formulir penghitungan suara discan di tingkat kota/kabupaten, dan hasilnya dikirim ke KPU pusat)

-12 Maret 2009: Persiapan TI Kacau, KPU Kembali 'Padat Karya'? : "Hal ini, lanjut Bambang, akan berakibat pada bakal terjadinya pengurangan informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Sebab, informasi tersebut tidak akan disajikan seluruhnya oleh perangkat TI yang disiapkan KPU. "Seperti misalnya nama anggota DPR saja yang dimunculkan, sedangkan DPD tidak," jelasnya. Bambang pun menyayangkan keputusan Ketua KPU Abdul Hafiz Anshari yang tidak menjalankan saran yang timnya berikan. "Padahal mulai dari input, proses, output hingga data center sudah kami siapkan, tinggal dijalankan saja," sesalnya. (Informasi yang akan disajikan hanya sebagian kecil dari hasil penghitungan suara)

-12 Maret 2009: Ketua KPU: Ini Hanya Masalah Pilihan: "Hafiz menjelaskan, awal mula perselisihan ini akibat KPU punya pandangan lain, sedangkan Ketua TI KPU juga punya pandangan berbeda. "Kalau nggak salah mereka mengusulkan sistem OMR, sedangkan kita pakai ICR. Tapi lebih jelasnya tanya Aziz (Abdul Aziz)," imbuhnya. (Sedikit meremehkan pilihan teknologi, tapi akibat buruknya mudah-mudahan sudah di-antisipasi)

-13 Maret 2009: KPU Dan BPPT Tandatangani MoU Implementasi TI Dalam Pemilu: "BBPT akan mendukung KPU dalam fungsi-fungsi TIK seperti merancang teknis sistem integrasi, pemeliharaan data center, piranti  network dan security, jaringan komunikasi data, pengumpulan hasil perhitungan suara dari kabupaten/kota hingga penyajian hasil perhitungan suara kepada publik melalui website" (Akhirnya,  Setelah keputusan teknis diambil, KPU serahkan urusan IT pada ahlinya)

Dan masih banyak lagi informasi yang bisa ditemui tentang teknologi yang dipilih dan akan digunakan untuk proses penghitungan suara elektronik. Menurut rencana, hasil penghitungan suara dari setiap TPS akan diisikan dengan tulisan tangan kedalam formulir yang disebut C1-IT kemudian formulir tersebut akan dikirim dan dikumpulkan di tingkat kabupaten/kota. Formulir yang terkumpul tersebut akan discan untuk dibaca datanya dan disimpan gambarnya untuk keperluan lain jika suatu saat diperlukan.

Dari beberapa cuplikan berita di atas, tampak adanya perbedaan pendapat dari tim TI dan pengambil keputusan di KPU. Tim TI tampaknya telah bekerja dan menyiapkan grand design yang tujuannya menampilkan sebanyak mungkin informasi tentang perolehan suara pada sistim tabulasi elektronik, mungkin diantaranya termasuk perolehan suara caleg per TPS untuk pemilihan anggota DPRD kota/kab, DPRD Propinsi, DPD dan DPR pusat. Tentu hal ini akan sangat menarik  untuk transparansi dan bagi siapa saja yang ingin mengetahui secara cepat hasil penghitungan suara, baik tim sukses caleg, calegnya sendiri maupun konstituennya dan juga mudah untuk memastikan apakah data yang sampai pada pusat data sama dengan hasil penghitungan yang sebenarnya di TPS. Mungkin karena pertimbangan biaya dan waktu yang sangat terbatas untuk persiapan, kemudian KPU pengambil keputusan menyederhakan kompleksitas penghitungan suara elektronik, yaitu hanya menyajikan hasil pemilihan anggota DPR pusat saja, untuk yang lainnya silakan tunggu hasil penghitungan manual.

Selain itu, dari cuplikan berita di atas juga ditemui bahwa teknologi OMR yang disarankan oleh tim TI ternyata tidak diterima dan digantikan dengan teknologi ICR. apa itu OMR (Optical Mark Recognition)? apa pula ICR(Intelligent Character Recognition)?

Apa saja kemungkinan implikasi dari pemilihan teknologi yang tidak sesuai dengan yang disarankan serta antisipasi apa yang bisa dilakukan untuk meminimalkan dampak negatifnya jika ada?

Untuk menggambarkan skenario hari H, kita bayangkan saja, setelah pukul 20.00 malam atau mungkin lewat, penghitungan suara di TPS sudah selesai. Kemudian petugas mengisi hasil penghitungan suara pada masing-masing formulir untuk DPRD kota/kab, DPRD Propinsi, DPD dan DPR pusat. Tidak lupa penghitungan suara DPR Pusat disalin ke lembar C1-IT. Satu lembar C1-IT anggap saja menampung daftar perolehan caleg untuk 6 partai, sehingga setiap TPS akan mengirimkan 7 lembar hasil perolehan suara plus 1 lembar rekap penggunaan kertas suara. Karena proses penghitungan suara akan sangat melelahkan mata (mencari tanda contreng lebih sulit daripada mencari coblosan) maka kemungkinan lembar C1-IT baru akan mulai terkumpul keesokan harinya di Kota/kabupaten. Mulailah teknologi pembacaan tulisan tangan atau ICR bekerja. Di sini kita bisa membayangkan, kertas formulir C1-IT terkumpul per TPS, lalu dimasukkan ke scanner.

image

Software ICR lalu akan membaca tulisan tangan pada formulir tersebut dan menerjemahkan menjadi data. Masalah mulai muncul ketika ada tulisan tangan yang tidak dikenali atau pengenalannya tidak meyakinkan, ini karena tulisan tangan berbeda-beda untuk setiap orang. Tulisan tangan tersebut mungkin akan diberi tanda supaya diperbaiki oleh operator software. Proses validasi untuk memperbaiki tersebut akan menyita waktu operator, dan proses ini tidak bisa dihindari bahkan dengan software ICR dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi sekalipun. Misalkan digunakan software ICR dengan tingkat akurasi 99%, maka rata-rata dari setiap 100 angka tulisan tangan, ada 1 angka yang salah baca dan harus diperbaiki. Misalkan waktu untuk menemukan dan memperbaiki satu huruf oleh operator yang sangat mahir butuh waktu hanya 2 detik untuk setiap lembarnya, maka bottleneck atau hambatan utama akan berpindah dari kecepatan scanner ke kecepatan operator, ini dengan anggapan scanner mampu memindai 40 lembar setiap menitnya. Waktu yang dibutuhkan untuk perbaikan manual inilah mungkin yang menjadi alasan utama kenapa tim ahli TI kpu tidak menyarankan ICR untuk memproses formulir penghitungan suara. kenapa? karena enak di depan, TIDAK ENAK DI BELAKANG, enak waktu diisi tapi tidak enak waktu diproses. Coba bayangkan untuk daerah pemilihan dengan 30.000 TPS, ada sekitar 240.000 lembar yang harus dilihat dijamin kebenaran pembacaannya oleh operator, kalau untuk operator terlatih perlu waktu 2 detik, tinggal dihitung berapa operator yang dibutuhkan dan berapa jam kerja untuk masing-masing. Tentu akan sangat melelahkan, dan tidak masuk akal jika dibebankan kepada satu orang operator saja.

Skenario ini tentu akan berbeda jika yang digunakan adalah teknologi DMR atau OMR yang akurasinya 100% dan tidak membutuhkan pekerjaan koreksi manual sehingga kecepatan pemrosesan benar-benar efektif. Masalah utama pada penggunaan OMR adalah jumlah lembar kertas yang diproses lebih banyak dan cara pengisian yang lebih memakan waktu pula, karena diisi dengan tanda silang pada tempat-tempat yang telah ditentukan. DMR adalah teknologi yang digunakan untuk memeriksa lembar ujian nasional siswa-siswi SD dimana siswa memberi tanda silang pada jawaban yang benar, demikian juga untuk menuliskan nama, nomor ujian dan sebagainya. Jika formulir C1-IT menggunakan DMR, petugas memberi tanda silang pada tempat yang sesuai angka perolehan suara dari setiap caleg DPR. Setelah discan, operator tidak perlu melakukan pemeriksaan atau validasi dari setiap lembar yang discan. Proses automasi pengumpulan data yang hampir tidak membutuhkan proses manual inilah yang disarankan oleh tim ahli TI KPU, namun ditolak. kenapa? karena TIDAK ENAK DI DEPAN, enak di belakang, tidak enak waktu diisi, tapi enak waktu diproses, semua bisa cepat dan automatis karena tidak perlu verifikasi manual. Kemampuan proses DMR bisa dikatakan hanya bergantung dari kecepatan scanner karena tidak perlu ada proses manual untuk validasi dan koreksi.

Setelah mengetahui kekurangan dan kelebihan dari masing-masing teknologi, dan setelah KPU mengambil kebijakan yang tidak sejalan dengan saran tim ahli TI, sekarang apa yang bisa dilakukan supaya efek negatif dari pemilihan teknologi tersebut bisa diminimalkan?

Salah satu efek dari keputusan untuk menggunakan ICR, adalah munculnya produk-produk software ICR dalam negeri yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Sedikit kontradiktif memang, KPU kabarnya akan menggunakan server lama yang akan diupgrade, sementara untuk ICR, KPU menggunakan software yang baru, masih kinclong, dan mungkin saja belum pernah digunakan. Sebenarnya lebih masuk akal jika KPU menggunakan server baru, dan software yang sudah sering digunakan. Tapi saya bangga pada rekan-rekan software developer yang dengan cepat berbuat sekuat tenaga untuk bangkit berkarya memenuhi kebutuhan software dalam negeri.

Berikut beberapa iklan yang bisa ditemui di dunia maya, yang menyediakan ICR yang sepertinya telah diracik khusus untuk KPU. Bahkan ditawarkan seperti barang bekas yang diobral

"... menyediakan berbagai jenis produk scanner, mulai flatbed sampai (Pembacaan tulisan tangan numerik/angka) dan e-Filing untuk KPU / KPUD "

"ICR Scanner KPU Pemilu 24 JAM - 16 Mar 2009 Stok Scanner 60 ppm banyak. Beli 1 Program ICR Gratis 1 Program ICR
Harga Scanner kecp 60 ppm sama dg Scanner 30 Ppm jadi KPUD beli yang.."

"ICR Plus Scanner KPU 2009 - untuk anda Scanner ICR Pemilu 2009 tanpa Uang muka sedikitpun Benar2 telah teruji di oleh KPU Pusat yang lain belum tentu... HUB: ..."

"SCANNER ICR FORM C1 - IT KPu PEMILU 2009:: Iklan Bars Gratis - 16 Mar 2009 Iklan Bars Gratis - SCANNER ICR FORM C1 - IT KPU PEMILU 2009 "

"DijuaI Scanner Pemilu KPU/KPUD dan Software ICR I Bisnis .... - Dijual High Speed Document Scanner Pemilu & Software ICR pembacaan tulisan tangan numerik/angka utk KPU / KPUD. Speed 30 ppm. A4/Folio/Legal. Feeder 50 Ibr."

"SCANNER ICR TERUJI UNTUK KPU PEMlLU 2009:: Iklan Baris Gratis - iklan Baris Gratis - SCANNER ICR TERUJI UNTUK KPU PEMILU 2009 "

"DMR ICR ini satu-satunya yang telah teruji kompatibilitas dan enkripsinya dengan system tabulasi yang akan digunakan datacenter KPU pusat. ... yang dipaketkan dengan DMR ICR dapat menjadi solusi bagi kebutuhan perangkat TI Pemilu 2009 . Paket scanner dan software ini ditawarkan mulai dari Rp 20,5 juta sudah termasuk PPN"

Dengan demikian banyaknya pilihan, apakah pengguna dalam hal ini KPUD kota/kabupaten bisa menentukan sendiri software apa yang mereka pilih untuk digunakan? KPUD pasti bingung, dan sebenarnya KPUD akan lebih senang jika assessment teknologi telah dilakukan KPU pusat dan KPUD tinggal mengadakan dan menggunakannya saja. Di sisi lain, tentu KPU pusat tidak ingin memberi aturan yang baku dan kaku tentang kemana KPUD membelanjakan anggarannya, yang penting spesifikasi sudah dikeluarkan, selama tidak keluar dari spesifikasi tersebut KPUD tidak bisa disalahkan pilihannya. 

Form processing dengan ICR bukanlah hal yang baru dalam TI, ratusan ribu lembar aplikasi kartu kredit yang diisi dengan tulisan tangan dibaca dengan ICR, begitu pula jutaan lembar sensus di berbagai belahan bumi diproses dengan ICR.  Beberapa merek software ICR yang selama ini cukup dikenal di Indonesia diantaranya Kofax AscendCapture, Cardiff Teleform, dan ABBYY Form Reader dan FlexiCapture. Umumnya produk-produk ini membedakan produknya untuk volume kecil/sedang dan untuk volume besar. Cara kerjanya sangat berbeda jika digunakan untuk volume besar. Untuk volume besar, produk-produk tersebut dikonfigurasi menyerupai ban berjalan, terdiri dari beberapa station, dengan fungsi yang berbeda-beda, ada yang khusus untuk scanning, recognition, validation station, export station, monitoring station dan administration station. Namun spesifikasi KPU yang mengharuskan user interface yang berbahasa indonesia tidak memungkinkan produk-produk tersebut untuk digunakan. Pada semua produk tersebut, proses yang memakan waktu paling lama adalah pada validasi dan verifikasi. Inilah yang harus diantisipasi, dan dimaklumi jika nantinya ternyata butuh waktu lebih lama daripada yang kita harapkan sebelum kita melihat hasilnya tampil di tabulasi nasional.

Lalu bagaimana sebaiknya KPUD dalam memilih solusi ICR yang akan digunakan?  Selain memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan, tentu pilihan juga akan sangat tergantung dari kemudahan penggunaan serta output yang didapatkan dari setiap produk. Kalau outputnya akan dikirim ke KPU pusat, tentu format output dari software ICR nya harus sesuai atau kompatible dan bisa diterima di sistim tabulasi KPU pusat.

Selain itu akan sangat membantu jika KPUD dapat melihat tampilan dari data yang akan dikirim dalam bentuk tabulasi sebelum data tersebut terkirim, ini untuk mencegah bahwa data yang belum siap atau salah terlanjur terkirim ke KPU pusat, sekaligus bisa menjadi backup dan alat kontrol jika saja ada perselisihan antara data yang terkirim dengan data yang tampil pada tabulasi nasional. Sistim tabulasi KPU pusat adalah pihak yang sangat, sangat dan sangat berkepentingan akan benar dan bersihnya data yang terkirim dari KPUD, karena jangan sampai sistim tabulasi yang disalahkan padahal data yang terkirim yang tidak benar atau tidak bersih dari sisi format maupun isinya. Tentu sistim yang bagus akan mengawal datanya dengan fitur-fitur keamanan seperti enkripsi jika diperlukan.

Petugas yang mengisi formulir C1-IT juga harus diingatkan bahwa tulisannya harus bagus, bersih dan rapi, bukan asal-asalan, karena dengan demikian akan mengurangi kerepotan operator scanner di kota/kabupaten dalam memperbaiki tulisan yang tidak terbaca dengan benar oleh software ICR.

Petugas scanner harus mengikuti petunjuk penggunaan dan setting scanner yang disertakan pada software ICR, untuk menghasilkan gambar yang optimal, demi meminimalkan kesalahan pembacaan.

Kita para geeks bisa ngapain? sekarang kita bisa memberikan penjelasan jika ada yang menanyakan bagaimana prosesnya contrengan pemilih bisa tampil di internet. Begitu pula kemungkinan-kemungkinan yang timbul dari proses tersebut, mulai dari penghitungan suara, pengisian formulir C1-IT, pembacaan ICR dan koreksi manual, kelambatan masuknya data dan seterusnya.

Mari kita sukseskan pemilu dengan ikut memberi perhatian dan mengawasi sistim TI KPU. 

Share this post: | | | |
Published Monday, March 16, 2009 2:21 PM by tahir
Filed under: ,

Comments

# re: Teknologi Apa yang Baru pada Sistem TI Pemilu 2009

Tuesday, March 17, 2009 2:28 PM by pebbie

<blockquote>Kita para geeks bisa ngapain?</blockquote>

:D bikin kompetisi icr aja..

Powered by Community Server (Commercial Edition), by Telligent Systems