Tiga hari menjelang pesta demokrasi ada beberapa judul berita di detik dan di harian Kompas tentang ICR dan kesiapan sistim TI pemilu 2009 yang cukup menarik perhatian:
1. Akurasi Sistem TI Pemilu Dipertanyakan, Sistem ICR Belum Teruji, Akurasi Dipertanyakan:
Salah satu bagian dalam sistem TI Pemilu 2009 adalah pemindaian hasil perhitungan tertulis menjadi data. Tulisan tangan angka-angka rekapitulasi perhitungan suara akan dipindai dengan teknologi Intelligent Character Recognition (ICR).
Nah, masalahnya, akurasi teknologi yang dipilih KPU ini dipertanyakan praktisi TI. ICR disebut belum teruji penggunaannya dan akurasinya dipertanyakan.
“ICR ini belum proven. Pernah digunakan oleh Depdiknas untuk pendataan pada 2007-2008, tapi gagal. Padahal anggarannya puluhan miliar. Akhirnya tetap pakai manual,” ujar praktisi TI dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ir Dedy Syafwan MT di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2009). ...
... Seperti diketahui, tabulasi elektronik Pemilu 2009 menggunakan sistem ICR. Dengan sistem ini, formulir C1 IT, yakni hasil rekap perolehan suara di TPS yang dibuat khusus dan ditulis tangan, akan dikirim ke kelurahan dan diteruskan ke KPUD Kabupaten/Kota untuk discan.
Hasil scanning yang berbentuk image ini kemudian ditafisirkan ke dalam bentuk angka dan huruf lewat ICR. Hasilnya lantas dikirim ke KPU pusat untuk diproses dan ditayangkan di website khusus sebagai hasil perolehan suara per TPS.
Namun, menurut Dedy, kerawanan sistem ini terletak pada ICR itu sendiri. Akurasi pemindahan dari gambar ke angka dan huruf belum teruji. Angka 7 di gambar bisa teridentifikasi sebagai angka 1, angka 6 bisa jadi 0, dan sebagainya.
...
“Ini masalah tulisan tangan dari petugas di KPUD kabupaten/kota yang beragam,” ucap Dedy.
Mengingat adanya potensi kesalahan ini, kata Dedy, perlu proses validasi dan verifikasi atas hasil ICR untuk memastikan kebenaran datanya. Jika tidak, sangat mungkin hasil ICR berbeda dengan data yang tertulis di formulirnya.
2. Tabulasi Rawan Munculkan Konflik Parpol:
Tabulasi elektronik pemilu yang dibuat KPU berpotensi memunculkan konflik antar parpol. Sebabnya, besar peluang terjadi perbedaan antara data tabulasi yang ditampilkan dengan data manual di lapangan.
“Potensi konfliknya tinggi. Begitu hasil perolehan suara dimunculkan di tabulasi, caleg dapat melihat, karena mereka kan punya saksi. Nah kalau terjadi perbedaan, mereka pasti tidak terima,” ujar praktisi TI dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ir Dedy Syafwan MT di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2009).
Padahal potensi perbedaan antara penghitungan manual dengan hasil penghitungan Teknologi Informasi (TI) itu tinggi. Sebab akurasi sistem ICR yang dipakai KPU masih dipertanyakan. Saat pemindahan gambar menjadi angka dan huruf, sangat mungkin terjadi kesalahan sehingga menyebabkan perbedaan hasil perolehan suara peserta pemilu.
Belum lagi, imbuh Dedy, potensi manipulasi juga sangat mudah terjadi akibat sistem yang lemah ini. Dalam perjalanan formulir C1 IT dari TPS ke KPUD kabupaten/kota, bukan tidak mungkin digangu pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan.
“Karena perjalanan dari TPS ke kabupaten jauh, sangat mungkin dikerjai,” ucap Dedy.
3. Anggaran Besar, Kemampuan Terbatas:
Anggaran untuk menyiapkan tabulasi elektronik Pemilu 2009 terhitung besar. Namun diprediksi kemampuan perforfamanya terbatas sehingga hanya akan memboroskan anggaran.
“Anggaran KPU untuk pengadaan scanner dan ICR di daerah mencapai Rp 30 miliar. Sedangkan untuk jaringan komunikasi Rp 18 miliar. Ini anggaran yang sangat besar. Sayangnya anggaran ini akan sia-sia,” ujar praktisi TI dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ir Dedy Syafwan MT di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2009).
... Persoalan kedua terletak pada proses validasi dan verifikasinya. Mengingat akurasi ICR tidak 100 persen sehingga sangat mungkin mengandung kesalahan, harus dilakukan proses validasi dan verifikasi atas hasil ICR. Proses ini akan memakan waktu lama. “Prosesnya bisa berjam-jam, bahkan bisa behari-hari,” kata Dedy.
Persoalan ketiga adalah jalur transmisinya yang menggunakan Multiprotocol Label Switching (MPLS). Menurut Dedy, masih sedikit teknisi yang mampu menguasi teknologi ini. “Orang Telkom sendiri masih sedikit yang menguasai masalah ini,” urainya.
Masih terkait dengan SDM, Dedy juga ragu jika para petugas di daerah siap mengoperasikan scanner dan ICR. “SDM-nya juga meragukan,” ungkapnya. Karena berbagai persoalan itu, Dedy memperkirakan hingga penghitungan secara manual selesai dan hasilnya diumumkan H+30, penghitungan secara elektronik ini justru belum selesai. Artinya, hitung manual lebih cepat ketimbang hitung elektronik. “Ini sangat tidak efektif. Ini bukan IT namanya, hanya proyek-proyekan saja,” tegas Dedy.
Harian Kompas 6 April 2009, Halaman 2:
Khusus tentang Teknologi ICR yang dituliskan pada artikel-artikel di atas, sepertinya ada pertentangan sehingga akan menarik untuk kita telaah lebih lanjut.
Pada artikel di detik, ada kekhawatiran yang sangat tinggi akan risiko penggunaan ICR, sementara artikel di Kompas ingin menimbulkan kesan seolah-olah algoritme ICR telah diuji oleh BPPT pada 50.000 test set dengan akurasi 98% yang sangat fantastis (angka ini mengingatkan saya pada iklan Tung Desem Waringin di MetroTV, yang menjanjikan bisnis tanpa modal dengan tingkat keberhasilan 98%, caranya ketik reg ... , mudah-mudahan kalimat di Kompas ini hanya kesalahan redaksional semata dan bukan pernyataan dari pihak BPPT, karena akan sangat sulit jika ada pihak yang meminta mereka membuktikannya secara scientific).
Untuk memberi sedikit gambaran tentang realitas keakuratan data ICR, sebagai pembanding mari kita tinjau beberapa metode yang sering digunakan untuk pembacaan atau extraksi data dari gambar hasil scanning sebuah dokumen. Tujuannya supaya kita bisa mendapatkan gambaran, apa sih yang bisa diharapkan dari penggunaan teknologi ini untuk penghitungan suara dan tabulasi elektronik serta risiko-risiko yang dihadapi dan apa yang harus diperhitungkan.
1. OCR atau Optical Character Recognition, yaitu metode pembacaan text huruf cetak dari lembar yang discan. Teknologi OCR cocok digunakan untuk membaca lembar berisi huruf cetak yang merupakan hasil cetakan dari sebuah mesin cetak, printer atau sejenisnya. Ciri-cirinya: setiap huruf (dengan font dan size yang sama) di manapun letaknya memiliki bentuk yang persis sama. Contohnya: cuplikan gambar kompas cetak di atas. Setelah dilakukan extraksi text dari gambar tersebut dengan menggunakan ABBYY Screenshot reader dengan melakukan OCR langsung pada layar di atas, diperoleh text berikut:
PEMILU
Sistem Tabulasi Nasional Dinyatakan Siap
JAKARTA. KOMPAS - Sistem tabulasi elektronik untuk Pemilu 2009 dinyatakan siap. Sistem ini akan menghadapi tantangan kemungkinan penyusupan (crackina), kesalahan sistem dalam membaca tulisan manusia, dan kelalaian manusia.
Mengantisipasi kemungkinan serangan penyusup sistem, seperti pada tabulasi tahun 2004. Ketua Tim Teknis Program Teknologi Informasi (TI) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) llusni Fahmi, Sabtu (4/4). mengatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan komunitas keamanan informasi untuk menguji keamanan infrastruktur dan data.
"Untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahan pengisian data. disiapkan help desk yang akan memperbaiki data." kata llusni seusai peluncuran kesiapan operasional infrastruktur Tl KPU.
Selain itu. untuk mengenali 1 H-iil uk angka vang ditulis tangan petugas KPPS. PPK. KPU kabupaten/kota, dan KPU provinsi, tim BPPT telah menguji algorit-nic terhadap 50000 les/ sel de-
ngan tingkat akurasi 98 persen. Validasi oleh operator juga mengurangi kemungkinan kesalahan data.
Kepala BPPT Marzan Iskan-dar menjelaskan, sistem tabulasi elektronik ini mengumpulkan dan menyajikan hasil pemilu di TPS secara cepat dan transjjaran. Dengan sistem ini. masyarakat bisa memantau perolehan suara secara berjenjang secara menerus sampai penetapan hasil Hasil tabulasi ini bisa dipantau di tnp.kpu.co.id sejak sehari setelah pemungutan suara.
Data perolehan suara setiap TPS dalam formulir Cl dipindai dengan sistem in/elh'genl charuc-/er recognition (ICR). Setelah formulir Cl-IT diotorisasi dan dimasukkan dalam tabel data. Jile diberi tanda air (waler mark), dikompresi, diinkripsi. dan dikirim ke pusat teknologi informasi dengan operator PT Telkom, Penerima berkas kemudian men-dekompresi data dan memasukkan ke tabel data sembari, secara paralel, memverifikasi ke KPU kabupaten/k"1^ "ala kemudian dibuat dalam halaman statis dan ditayangkan dalam situs setelah ditangani wbmas/er. (INA)
Teknologi OCR memberikan pembacaan dan pengenalan huruf yang cukup baik tapi itupun akurasinya tidak sampai 100%, hal ini bisa kita lihat dari kesalahan pembacaan pada kata dan kalimat tertentu sehingga text di atas pada beberapa kalimat menjadi kurang enak dibaca. Pada penerapan OCR kekurangan-kekurangan ini bisa diminimalkan dengan menggunakan dictionary atau daftar kata yang berfungsi sebagai spelling checker untuk membetulkan kata-kata yang pembacaannya kurang tepat.
2. DMR atau Digital Mark Reader, yaitu pengembangan lebih lanjut dari apa yang tadinya dikenal dengan OMR atau Optical Mark Recognition. Teknologi ini membaca tanda bulatan atau tanda silang pada kertas yang discan menjadi data, tergantung di mana tanda tersebut diberikan. Penggunaan teknologi ini biasa kita jumpai pada ujian massal seperti test masuk perguruan tinggi, test CPNS, sertifikasi dan mulai tahun 2008 juga digunakan pada UASBN atau ujian akhir siswa-siswi tingkat SD. Akurasi atau ketepatan DMR lebih baik daripada OCR karena tidak ada pengaruh ukuran dan bentuk font dan karena itu akurasi 100% bisa tercapai dengan mudah. Berikut contoh lembar DMR untuk keperluan perhitungan suara per TPS:
Memang mengisinya lebih repot karena selain menulis angka, juga memberi tanda silang di bawahnya. Tapi kalau anak yang belum tamat SD pun mampu melakukannya, apalagi petugas di TPS. Kekurangan lainnya adalah jumlah lembar yang diisi juga lebih banyak, namun kalau yang diutamakan adalah AKURASI data serta KECEPATAN, teknologi ini tak tertandingi. AKURAT karena tidak terpengaruh bentuk tulisan, dan CEPAT karena tidak perlu validasi data untuk setiap lembar yang discan. Kecepatan scanning dan termasuk pembacaannya bisa 2 lembar perdetik, tanpa ada waktu penalti untuk koreksi dan validasi. Organisasi selain KPU yang turut berkepentingan dengan pengumpulan hasil penghitungan suara yang CEPAT dan AKURAT untuk tingkat DPR Pusat, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota di beberapa daerah dapat memilih menggunakan teknologi DMR pada pemilu 2009 ini untuk kepentingan internal mereka.
3. ICR atau Intelligent Character Recognition adalah teknologi yang mengandalkan intelegensi buatan untuk mengenali tulisan tangan menjadi data. Kalau OCR membaca huruf hasil cetakan, maka ICR membaca tulisan tangan. Kalau OCR saja tidak 100% akurat apalagi ICR, maka adalah omong kosong jika ada ICR yang mampu mencapai akurasi 98%, kecuali jika tesnya sangat terbatas dan kondisinya terekayasa dengan apik. Tulisan tangan setiap orang berbeda-beda. Tulisan tangan orang yang sama pun berbeda-beda. Kadang kita menulis agak miring ke kanan, kadang miring ke kiri kadang tegak, mungkin tergantung mood atau suasana hati pada saat kita menulis. ICR akan berusaha sebaik mungkin untuk MENEBAK tulisan tangan yang dibaca berdasarkan kemiripan atas kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan pada algoritma yang digunakan. ICR bertumpu pada cara atau algoritma yang digunakan dalam menebak. Yang namanya tebakan, biasanya makin sering menebak makin banyak benar dalam tebakannya, dan setiap tebakan bisa diperkirakan tingkat keyakinan akan benar tidaknya tebakan tersebut. Ini adalah salah satu cacat dari teknologi ICR yaitu pada saat dia YAKIN tebakannya BENAR tapi ternyata SALAH. Istilahnya adalah "False Positive". Karena false positive ini tidak bisa dihindari, maka tidak ada satu lembar pun hasil scanning yang tidak perlu diverifikasi dan divalidasi, berapapun tingginya akurasi yang diklaim oleh sebuah produk ICR. Inilah jebakan yang harus dihindari jika AKURASI dari data adalah segalanya, dan karenanya secara teknis sebenarnya ICR tidak cocok digunakan untuk penghitungan suara yang harus AKURAT dan CEPAT dan pilihan ini secara teknis menurut saya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pada penghitungan suara yang menyangkut hak setiap warga negara, tidak boleh ada toleransi kesalahan. Jangan sampai ada warga negara yang suaranya tidak terhitung atau ada yang salah hitung, kenapa? Itulah hak kita sebagai warga negara yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Lalu kapan teknologi ICR biasanya diterapkan? ICR cocok untuk pembacaan yang AKURAT tapi tidak harus CEPAT, atau yang harus CEPAT tapi tidak harus AKURAT. Pembacaan formulir pendaftaran kartu kredit misalnya, prosesnya harus AKURAT tapi tidak harus CEPAT, setiap hasil pembacaan ICR akan divalidasi oleh operator dan untuk itu mereka mendapat imbalan yang sesuai. Untuk memvalidasi setiap isian, perlu waktu yang tidak sedikit. Lembar yang diproses perhari sekitar puluhan lembar saja.
Skenario dimana KECEPATAN lebih penting tapi AKURASI masih bisa ditolerir adalah pada pemrosesan lembar sensus. Lembar yang diproses perhari bisa mencapai puluhan ribu lembar.
Lalu apa yang bisa diharapkan dari penggunaan ICR pada Pemilu 2009 ini? Kalau mau AKURAT, tidak bisa CEPAT. Kalau mau CEPAT pasti tidak bisa AKURAT, apalagi kalau operator yang bertugas untuk memvalidasi dan membetulkan kesalahan tebakan dari ICR belum berpengalaman dan belum menguasai teknik scanning yang baik untuk keperluan ICR, belum lagi jika jumlah operatornya terbatas.
Kita berharap BPPT yang diserahi tanggung jawab kelancaran TI KPU sejak 12 Maret 2009 mampu menangani berbagai permasalahan dalam TI KPU, meskipun mereka sama sekali tidak dilibatkan dalam proses pemilihan teknologi ICR ini.
Apakah anda rela suara anda hilang gara-gara kesalahan pemilihan teknologi?