Rekan-rekan pasti sudah mengetahui apa yg dimaksud dengan windows service. Singkatnya, Windows service memungkinkan kita untuk menjalankan aplikasi yg berjalan pada sesi windowsnya sendiri. Service ini dapat dapat otomatis berjalan ketika komputer booting. Kita bisa start, pause dan jug restart service. Service tidak memiliki interface.Service ini cocok digunakan untuk server side dimana kita butuh fungsionalitas yg tidak menggangu dengan user yang bekerja pada komputer yang sama.

Aneh aja klo kita buat aplikasi server dengan menggunakan Console Application. Bisa aja sih. Tapi bakalan gak aman dan bisa di close tanpa sengaja sama orang lain. Klo di Linux kita punya daemon di windows kita punya Windows Service.

Ada beberapa langkah standar yang harus kita lakukan untuk membuat windows service. Hal tersebut merupakan code infrastructure yang sebenarnya hampir sama di setiap project. Karena kita menganut paham DRY (Don't Repeat Yourself) maka kita sudah pasti mencari alternatif lain untuk menghilangkan pekerjaan yang berulang-ulang tersebut. Untungnya di komunitas Open Source .NET sudah ada framework yang menyelesaikan masalah tersebut. TopShelf memudahkan kita untuk membuat windows service. Dengan beberapa line of code kita dapat membuat windows service.

TopShelf juga memiliki fitur lain yang disebut Shelving. Shelving merupakan TopShelf service host. Jadi kita tidak perlu membangun plumbing dan boiler plate code lagi utk hosting. Tetapi tinggal copy service yang kita mau ke directory deploy dan TopShelf akan otomatis merun service tersebut. Konsep ini mirip seperti yang di implementasikan di IIS. Untuk penjelasan step by step nya bisa dilihat di sini

Share this post: | | | |

Programmer seperti apakah kamu. Sambil mengisi waktu luang dapat menjawab pertanyaan berikut.

Programmer Personality Test

Hasil dari test tersebut bisa kita gunakan untuk melakukan retrospeksi diri dan improvement kedepannya. But firstly. Be Honest.. :D

Enjoy it

Share this post: | | | |

Salah satu hal yang absolutely harus dilakukan untuk membuktikan bahwa defect ada ialah dengan membuat automated test yang membuktikan keberadaan defect tersebut.

Terlebih dahulu buatlah automated test yang dapat me reproduce atau replicate defect tersebut dan kemudian buatlah perbaikan terhadap defect tersebut sampai test tersebut sukses dijalankan atau green. Test tersebut menjadi sangat berarti nanti kedepannya untuk membuktikan bahwa defect tersebut solved. Sebenarnya defect tersebut terjadi karena scenario yang tidak kita perhitungkan sebelumnya atau asumsi kita yang salah terhadap system tersebut. Sudah barang tentu apabila kita melakukan Test Driven Development (TDD) atau Behaviour Driven Development (BDD) defect2 tersebut akan di minimalisir. Tetapi bagi code2 yang tidak di develop dengan menggunakan TDD or BDD kita dapat menulis test jika akan mengerjakan perbaikan terhadap defect tersebut.

Membuat test mungkin pekerjaan yang membosankan. Tetapi hal tersebut harus dilakukan karena kemudahan akan didapat di kemudian hari. Test tersebut berguna sebagai safety net apabila kita melakukan perubahan. Sehingga kita tetap berjalan dengan aman ketika melakukan refactor atau menambahkan feature baru.

Untuk pertama kali tidak perlu menggunakan tools yang rumit2. Hal ini bisa dilakukan hanya dengan memakai tool seperti NUnit untuk integrasinya dengan visual studio kita dapat menggunakan Test Driven .NET. Biasakan terlebih dahulu untuk akrab dengan testing tools yang sederhana, jika sudah terbiasa utk menulis test maka kita bisa menggunakan tools yang lebih rumit seperti FitNess utk Automated Acceptance Test. But.... Always start with the small thing first.

Share this post: | | | |
Posted by welly tambunan | 2 comment(s)
Filed under: , , ,