RonaldWidha

percaya sama occam razor
See also: Other Geeks@INDC

July 2009 - Posts

Kompas ePaper menentang IGOS?
Adi Nugroho mengirimkan surat terbuka ke redaksi Kompas dan mailing list Linux-Aktifis tentang pilihan Kompas dalam mengadopsi Microsoft Silverlight untuk fitur ePaper-nya. Adi menyayangkan pilihan tersebut untuk bbrp alasan: tidak sesuai dengan IGOS (Indonesia Goes Open Source) dan faktor aksesibilitas.
 
Semua orang punya kebutuhan yang sama?
Pemilihan sebuah platform teknologi harus dibasiskan dari nilai-nilai apa yang dipegang teguh oleh organisasinya. Sektor publik dan sektor privat adalah dua entity yang bekerja dalam azas yang sangat berbeda. Bahkan 1 perusahaan sektor privat bisa memegang nilai-nilai yang sangat berbeda dengan perusahaan yang lain.
 
Program IGOS berusaha untuk yaitu untuk meminimasi pengeluaran di sektor pemerintahan (http://tekno.kompas.com/read/xml/2008/05/29/1108301/migrasi.ke.igos.dimulai). Menggunakan OSS memungkinkan sektor pemerintah untuk mengurangi anggaran pembelian lisensi perangkat lunak. Melalui program ini, saya pikir pemerintah Indonesia berharap untuk bisa memelihara program-program yang dipakai secara swalayan. Hal ini akan makin menurunkan pengeluaran dalam IT maintenance sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.
 
Perusahaan di sektor privat mungkin tidak memiliki kebutuhan yang serupa. Beberapa perusahaan mungkin lebih memiliki fokus untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang bisa diberikan kepada konsumernya daripada mengurangi pengeluaran. Ini bukan berarti teknologi proprietary memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada OSS. Tetapi kualitas keduanya harus dibandingkan secara setara tanpa embel2 OSS atau proprietary.
 
Adobe Flash bukan OSS
Saat ini, OSS menjadi bagian penting dari strategi pemasaran untuk perusahaan-perusahaan teknologi. Adobe Flash memiliki beberapa komponen yang terbuat dari teknologi open source, tetapi saya rasa kurang pantas untuk disebut sebagai teknologi open source. Format Adobe Flash dan Shockwave masih membutuhkan player proprietary untuk memainkannya. Adobe memiliki inisiatif yang cukup agresif terhadap OSS (http://stlab.adobe.com/), tetapi bukan berarti seluruh teknologinya dianggap Open Source. Begitu juga Microsoft, yang beberapa teknologinya diluncurkan dengan lisensi open source (http://www.asp.net/mvc).
 
Mayoritas bukan ubikuitas
Tidak dipungkiri bahwa Adobe Flash memiliki penetrasi market yang sangat tinggi. Platofrm ini datang di saat yang tepat dan menjawab tantangan para netters yang menginginkan experiens yang lebih baik dalam berselancar di dunia cyber. Tetapi kita juga tidak bisa mengaggap bahwa semua orang memiliki adobe flash atau shockwave player. Bahkan saya yang menghabiskan sebagian besar waktu hidup saya di depan komputer tidak bisa membuka http://www.tribun-timur.com/epaper/ karena cuma memiliki Adobe Flash player dan bukan Shockwave player plugin (perbedaan flash dan shockwave: http://kb2.adobe.com/cps/139/tn_13971.html)
 
OSS bukan berarti aksesibilitas
Penggunaan teknologi proprietary tidak harus berarti mengurangi aksesibilitas. Microsoft Silverlight, selayaknya Adobe Flash, mampu dicerna di berbagai macam platform termasuk sistem operasi seperti Linux dengan plugin Moonlight. (Sayangnya memang aplikasi Silverlight 2.0 belum bisa dibaca oleh Moonlight).
 
Saya setuju bahwa dengan memilih platform proprietary seperti Silverlight atau Flash daripada standar terbuka seperti HTML akan mengurangi penetrasi marketnya. Tetapi bila kita mencerna apa tujuan Kompas ePaper lebih lanjut, kita akan menyadari bahwa ini adalah sebuah fitur nilai tambah. Konten yang sama bisa diambil dari situs Kompas.com. Hanya saja bila seseorang ingin experience yang lebih baik, mereka bisa memakai fitur ePaper. Dengan HTML 5 yang masih di awang-awang, hanya Microsoft Silverlight dan Adobe Flash yang bisa dijadikan alternatif.
Share this post: | | | |
Apa bedanya Unit Test dan TDD? Ngilangin debugging

Salah satu tujuan TDD yang sangat berguna adalah menghilangkan waktu yang dipakai untuk debugging.

Aku baru aja menulis kode dan sehabis itu baru menulis unit test. Aku berharap unit testnya langsung hijau (baca: red-green refactoring). Jantung berdebar...dan yakk..ternyata 'merah'. Sekarang aku terpaksa harus debug kode unit test-nya.

Apa yang salah?

Menulis unit test sehabis kodenya memaksa aku untuk menghadapi kode yang 'sudah rumit'. Dan begitu ada yang salah, mau ga mau aku harus pakai debugger.

Nulis Unit test dahulu menjauhkan aku dari masalah ini. Setiap saat aku bakal menghadapi kode yang sederhana dan secara sedikit demi sedikit mencapai tujuan.

Share this post: | | | |