RonaldWidha

percaya sama occam razor
See also: Other Geeks@INDC

September 2009 - Posts

Mengapa Hash Tag lokal sangat popular?

Akhir-akhir ini banyak muncul hash tag lokal menjadi trending topic di Twitter. #IndonesiaUnite, #jamanSD, #MbahSurip adalah beberapa yang saya ingat. Terlepas dari iritasi saya terhadap Meme ini, saya ingin mencoba merespon Nukman Luthfie yang menulis tentang bagaimana trend hash tag lokal di Twitter tidak sejalan dengan konsep tipping point dari Malcolm Gladwell. Di Misteri Trending Topic, Toni bahkan lebih jauh lagi membandingkan fenomena ini dengan bbrp teori lain dari Freakonomics dan Black Swan.

Teori Mainan Baru

Kalo kita ingat kembali lebih dari 10 tahun lalu, di saat sebagian dari kita baru saja mengenal internet dan email. Di saat internet harus diakses melalui portal direktori, chat harus janjian di channel tertentu dan email masih sepi. Sekali-sekali ada email masuk, quiz cinta2an atau chain emails yang lain, kita pun tidak ragu2 untuk mem-forward imel tersebut ke semua teman yang kita tau. Faktor mainan baru, kesempatan untuk menulis email ketika tidak ada ide apa yang bisa ditulis.

Faktor mainan baru ini jg terjadi di tahun 80-an ketika hampir semua lagu pop dihiasi dengan efek gaung (reverb) yang berlebihan. Di saat itu, efek digital menjadi mainan baru, dan para engineer berusaha mencari semua suara yang bisa dibubuhi efek ini, dari Cindy Lauper, Depeche Mode sampe rok balada tidak terlepas dari epidemik ini (wikipedia: gated reverb).

Begitu pula dengan twitter. Aku berpendapat bhw banyak orang yang ingin menggunakan twitter tetapi tidak tahu mau nulis apa. “lagi nunggu si @anu”, ataupun tweert yang meta pangkat dua semacam: “lagi bingung mo nge-twit apa”.

Ingin ikut main, tapi tidak punya topik.

Injeksi ide dari hash tags lokal memiliki nilai gimmick dan daya tarik yang tinggi untuk menyuntik ide di audiens yang lapar akan stimulus. Faktor mainan baru ini tiba2 mengisi kekosongan yang ada di audiensnya.

[Updated] Teori mainan baru ini semakin didukung dengan bukti tren hash tag ini biasanya tidak bertahan lama, novelty factor tend to quickly wear off.

Teori Kultur Latah

Teori yang kedua jauh lebih sinis dan sangat meng over simplifikasi karakteristik banyak orang, walaupun jauh dari rasis.

Efek ‘latah’ cukup tertanam di darah kita sebagai orang Indonesia (dan tidak malu-malu saya pun tidak luput menjadi subjek dari fenomena ini). Satu pake batik, semua pake batik. Satu suka peter pan, semua suka peter pan.

Bila kita telaah lebih lanjut, sifat ini sinkron dengan kultur kita yang bertendensi untuk ‘hormat’ dengan figur otoritas tanpa cukup kritis untuk mempertanyakan apa yang seharusnya ditanya. Kepatuhan terhadap agama, orang tua dan guru tertanam baik dalam kultur dan cara pandang (stereotipikal) orang Indonesia.

Fenomena hash tag ini bisa jadi bentuk mutasi kultur yang sama dalam dunia Twitter. Secara bawah sadar kita patuh sama the sneezers among us tanpa mempertanyakan apa efek/dampaknya. Apakah dengan mempopulerkan #IndonesiaUnite kita benar mempersatukan bangsa atau cuma memberikan publikasi gratis terhadap aksi teror?

Share this post: | | | |